Puang Siboro: Panei Simalungun atau Panai Kuno Padang Lawas?

Puang Siboro dikenal melalui legenda Situs Batu Gajah di Dolok Panribuan, Simalungun. Dalam cerita tersebut, ia disebut sebagai istri Raja Mulajadi dan ibu dari Si Gara serta Si Saimat. Ia juga dikenal dengan nama Puang Huta Dipar.

Asal-usul Puang Siboro masih menjadi pertanyaan terbuka. Sebagian sumber menyebut Panei di Simalungun, sedangkan pembacaan terhadap sumber arkeologi, keadaan geografis, dan tradisi lisan yang lebih luas membuka kemungkinan bahwa Puang Siboro memiliki hubungan dengan Panai kuno di kawasan Padang Lawas.

Kedua kemungkinan ini sama-sama perlu dikaji. Keterangan mengenai Panei Simalungun terutama berasal dari tradisi lisan yang dicatat kemudian. Sementara itu, kemungkinan Panai kuno didukung oleh hubungan budaya, peninggalan arkeologi, serta sejumlah tradisi geografis yang masih hidup di Sumatra Utara.

Keterangan tentang Panei Simalungun

Sumber yang sering dijadikan dasar untuk menghubungkan Puang Siboro dengan Panei adalah Steenplastiek in Simaloengoen karya G. L. Tichelman dan P. Voorhoeve, yang diterbitkan pada tahun 1938.

Dalam buku tersebut disebutkan:

“Daarna huwde Radja Moela Djadi met Poeang Siboro, de dochter van den Oerang Kaja (een der haradjaan’s) van Panei…”

Artinya, Raja Mulajadi menikah dengan Puang Siboro, putri seorang Orang Kaya, salah satu penguasa di Panei. Puang Siboro juga disebut dengan nama Puang Huta Dipar dan memiliki anak kembar, Si Gara dan Si Saimat (https://www.delpher.nl/nl/boeken/view?identifier=MMKB06:000003222:00056&query=siboro&page=2&sortfield=date&coll=boeken&rowid=9).

Penelitian Jalatua Habungaran Hasugian yang diterbitkan pada tahun 2025 juga menyebut Puang Siboro sebagai putri Raja Kerajaan Panei, salah satu kerajaan di Simalungun (https://doi.org/10.24114/ph.v10i1.64674https://jurnal.unimed.ac.id/2012/index.php/ph/article/download/64674/26238).

Keterangan tersebut penting karena nama Panei disebut secara langsung. Akan tetapi, sumber tahun 1938 mencatat legenda yang diperoleh dari tradisi masyarakat, bukan prasasti, dokumen kerajaan, atau catatan sejarah yang ditulis pada masa kehidupan Puang Siboro.

Penelitian tahun 2025 juga secara khusus membahas tradisi lisan. Oleh karena itu, Panei Simalungun merupakan kemungkinan yang kuat dalam tradisi lokal, tetapi belum dapat dianggap sebagai bukti sejarah yang sepenuhnya pasti.

Kemungkinan hubungan dengan Panai kuno

Kemungkinan lain adalah bahwa Puang Siboro mempunyai hubungan dengan Panai kuno, yang juga dikenal sebagai Pannai. Panai merupakan kerajaan atau pusat kekuasaan lama yang dikaitkan dengan kawasan Padang Lawas, terutama lembah Sungai Panai dan Sungai Barumun.

Kawasan tersebut memiliki banyak peninggalan biaro dan bangunan keagamaan yang memperlihatkan pengaruh Hindu-Buddha. Perkembangan budaya Panai biasanya ditempatkan sekitar abad ke-11 hingga abad ke-14.

Situs Batu Gajah di Simalungun juga memperlihatkan unsur budaya yang tidak sepenuhnya dapat dijelaskan hanya melalui tradisi lokal. Tata letak bangunan berundak, lokasi di sekitar pertemuan sungai, serta patung dan relief di situs tersebut menunjukkan kemungkinan adanya hubungan dengan jaringan budaya Hindu-Buddha di Sumatra Utara.

Sangkhakala: Berkala Arkeologi XV tahun 2005 membahas pengaruh Hindu-Buddha pada Situs Batu Gajah dan membandingkannya dengan perkembangan budaya Hindu-Buddha di kawasan Padang Lawas. Dalam pembacaan terhadap pembahasan tersebut, Puang Siboro kemudian dihubungkan dengan Panai, kerajaan yang berkembang di kawasan Padang Lawas (Sangkhakala: Berkala Arkeologi XV, Mei 2005: https://repositori.kemdikbud.go.id/7698/1/Sangkhakala%20Berkala%20Arkeologi%20-%20XV%20Mei%202005%20-%20Balai%20Arkeologi%20Medan.pdf).

Hubungan tersebut memberikan dasar penting bagi hipotesis Panai. Peninggalan Hindu-Buddha memang tidak otomatis membuktikan bahwa Puang Siboro berasal dari Panai. Namun, peninggalan tersebut dapat menunjukkan bahwa Batu Gajah berada dalam lingkungan budaya yang berhubungan dengan pusat-pusat kekuasaan Hindu-Buddha di Sumatra Utara.

Jika Puang Siboro adalah tokoh bangsawan atau putri dari suatu pusat kekuasaan lama, Panai merupakan salah satu kemungkinan yang patut dipertimbangkan. Panai memiliki jejak kebudayaan yang lebih tua dan jaringan yang lebih luas dibandingkan kerajaan-kerajaan tradisional Simalungun yang dikenal dari sumber-sumber kemudian.

Kisah Si Mardan dan Pulau Simardan

Salah satu petunjuk lain yang menarik adalah kisah Si Mardan, sebuah legenda Batak yang dikenal luas di kawasan Tanjungbalai dan Asahan. Kisah tersebut menceritakan seorang anak yang merantau, menjadi kaya, lalu kembali dengan kapal besar. Karena tidak mengakui ibunya, ia kemudian dikutuk dan kapal atau tubuhnya dikaitkan dengan terbentuknya Pulau Simardan.

Legenda ini dikenal sebagai cerita rakyat Tanjungbalai dan Pulau Simardan sekarang tercatat sebagai wilayah di Kota Tanjungbalai (https://bbgtksumut.kemendikdasmen.go.id/cerita-rakyat-simardan/https://atavisme.kemdikbud.go.id/index.php/atavisme/article/download/909/pdf).

Namun, terdapat versi dan penelusuran lokal yang menghubungkan nama Simardan dengan wilayah Sungai Barumun dan kawasan Panai. Apabila benar terdapat Pulau Simardan atau tempat bernama serupa di wilayah Panai, hal tersebut perlu didokumentasikan dengan koordinat, peta, dan sumber lokal yang jelas. Sampai saat ini, sumber-sumber umum yang mudah ditemukan menempatkan Pulau Simardan yang terkenal di Tanjungbalai, bukan secara langsung di wilayah administratif Panai.

Karena itu, hubungan antara kisah Si Mardan dan Panai belum dapat disebut sebagai bukti. Akan tetapi, kisah tersebut tetap menarik karena memperlihatkan adanya tradisi tentang tokoh yang datang dari daerah pedalaman, pergi ke wilayah pesisir, lalu dikaitkan dengan sebuah tempat keramat atau pulau.

Dalam salah satu versi cerita, Simardan disebut berasal dari daerah hulu atau kawasan Tapanuli sebelum sampai ke Tanjungbalai. Hal ini menunjukkan pola hubungan antara daerah pedalaman dan pesisir. Jika kelak ditemukan versi lama yang secara jelas menghubungkan Si Mardan dengan Sungai Barumun atau Panai, maka hal tersebut dapat menjadi petunjuk tambahan mengenai pentingnya kawasan Panai dalam ingatan kolektif masyarakat (https://tanjungbalaiasahan.wordpress.com/2012/10/09/kenapa-disebut-pulau-si-mardan/).

Kisah Si Mardan juga memperkuat kesan bahwa kawasan muara dan sungai di Sumatra Utara pernah menjadi ruang penting bagi pergerakan manusia, perdagangan, dan cerita tentang kerajaan besar. Sungai Barumun dan Sungai Panai tidak hanya dapat dipahami sebagai unsur geografis, tetapi juga sebagai jalur penghubung antara pedalaman dan pesisir.

Hubungan geografis dan jaringan lama

Kawasan Panai, Batak pedalaman, dan Simalungun tidak dapat dianggap sebagai wilayah yang sepenuhnya terpisah. Sejak masa lalu, sungai, lembah, dan jalur darat memungkinkan terjadinya perpindahan manusia, perdagangan, perkawinan, dan pertukaran kepercayaan.

Dalam tradisi lisan, seorang tokoh dapat disebut berasal dari satu tempat, menikah atau memerintah di tempat lain, lalu dikaitkan dengan tempat ketiga melalui makam, tempat keramat, atau nama geografis. Karena itu, jika terdapat tradisi yang menghubungkan Puang Siboro, Kuba, Sungai Barumun, dan Panai, hubungan tersebut tidak seharusnya langsung dianggap tidak relevan.

Cerita mengenai Datu Parulas Parultop, Kuba, Pulau Simardan, dan kawasan Panai dapat menjadi petunjuk mengenai ingatan kolektif masyarakat terhadap hubungan antardaerah. Cerita rakyat memang bukan bukti sejarah langsung, tetapi dapat membantu mengarahkan penelitian arkeologi, sejarah lokal, dan antropologi.

Panai sebagai pusat kerajaan lama

Peninggalan biaro di Padang Lawas memperlihatkan bahwa kawasan Panai pernah menjadi pusat kebudayaan yang memiliki hubungan luas. Keberadaan bangunan keagamaan, arca, relief, dan artefak perdagangan menunjukkan bahwa kawasan tersebut bukan wilayah terpencil.

Apabila masyarakat Panai memiliki hubungan dengan daerah pedalaman, sangat mungkin terjadi perpindahan keluarga bangsawan, pemuka agama, pedagang, atau kelompok masyarakat ke wilayah lain. Dalam konteks tersebut, kisah tentang seorang perempuan bangsawan yang kemudian dikenal di Simalungun bukanlah sesuatu yang mustahil.

Puang Siboro tidak harus dipahami hanya sebagai tokoh yang lahir dan menetap di satu tempat. Ia mungkin merupakan tokoh yang datang dari suatu wilayah, menikah dengan penguasa lokal, lalu menjadi bagian dari sejarah dan mitologi masyarakat Simalungun.

Dengan demikian, penyebutan Panei dalam tradisi Simalungun tidak otomatis menutup kemungkinan hubungan dengan Panai kuno. Panei dapat menjadi tempat asal menurut tradisi lokal, sedangkan Panai dapat menjadi asal yang lebih tua berdasarkan jaringan budaya dan politik yang lebih luas. Ada pula kemungkinan bahwa kedua nama tersebut mengalami perubahan bunyi dan ejaan dalam perjalanan tradisi lisan.

Kesimpulan

Berdasarkan sumber yang tersedia, Panei Simalungun merupakan salah satu kemungkinan asal Puang Siboro karena nama Panei disebut dalam legenda yang dicatat pada tahun 1938 dan penelitian tradisi lisan tahun 2025.

Namun, kemungkinan bahwa Puang Siboro berasal dari Panai kuno juga memiliki dasar yang patut diperhatikan. Dasar tersebut meliputi pengaruh Hindu-Buddha di Situs Batu Gajah, hubungan budaya dengan Padang Lawas, jaringan geografis antara Panai dan Simalungun, serta berbagai tradisi mengenai Kuba, Sungai Barumun, Si Mardan, dan tempat-tempat keramat di kawasan tersebut.

Bukti mengenai Panei Simalungun dan Panai kuno sama-sama belum bersifat final. Keterangan Panei terutama berasal dari tradisi lisan. Sementara itu, hipotesis Panai disusun dari hubungan antara data arkeologi, geografis, dan tradisi lisan yang belum seluruhnya terverifikasi.

Karena itu, kemungkinan Panai tidak seharusnya dipandang sebagai dugaan yang lemah atau sekadar kesalahan membaca nama. Ia merupakan hipotesis yang memiliki dasar budaya dan geografis, serta layak diteliti secara serius.

Kesimpulan yang paling terbuka adalah sebagai berikut:

Puang Siboro dalam tradisi Simalungun disebut berhubungan dengan Panei. Akan tetapi, pengaruh budaya Panai, hubungan Sungai Barumun dengan wilayah sekitarnya, serta tradisi lisan tentang tokoh-tokoh yang bergerak antara pedalaman dan pesisir membuka kemungkinan bahwa Puang Siboro mempunyai hubungan dengan Panai kuno di Padang Lawas.

Belum ada bukti langsung yang dapat memastikan salah satu kemungkinan tersebut. Namun, penelitian lebih lanjut terhadap Situs Batu Gajah, kawasan Panai, tradisi Si Mardan, nama-nama tempat, naskah Batak, dan jalur sungai lama mungkin dapat menjelaskan hubungan yang selama ini masih tersimpan dalam ingatan masyarakat.

(Gambar dari Collectie Stichting Nationaal Museum van Wereldculturen)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Mengenai situs "Marga Siboro"

Siboro versus Lumban Raja (2)

Silsilah Marga Cibro