Menelusuri Jejak Kuno di Situs Bongal dan kaitannya dengan Siboro
Dalam tradisi mereka, Siboro adalah gelang dari pilinan benang berwarna merah dan putih yang menyimbolkan kemanusiaan (darah) dan keilahian Kristus, yang dipasang pada perayaan Kabar Sukacita (Annunciation) hingga Paskah.
Tentu saja, saat postingan itu ditulis pada Desember 2024, kami paham betul bahwa kaitan antara marga Siboro di tanah Batak dan gelang Siboro milik orang Syria tersebut masih terasa sangat jauh dan sebatas kebetulan fonetik (kemiripan nama) serta rasa penasaran sejarah.
Namun, apakah hubungan itu benar-benar murni kebetulan tanpa benang merah?
Sebuah publikasi ilmiah berjudul Tracing Early Christianity at the Bongal Site, Central Tapanuli District, North Sumatra karya Rosmaida Sinaga dan kawan-kawan tampaknya memberikan kepingan puzzle baru yang sangat menarik. Penemuan arkeologi di Situs Bongal, Tapanuli Tengah, memperlihatkan bahwa meski jaraknya masih terasa jauh, hubungan historis itu kini terasa sedikit lebih dekat dan lebih rasional.
Situs Bongal: Bukti Kekristenan Kuno di Pesisir Barat Sumatra (Abad ke-4 sampai 5 Masehi)
Bagi yang belum familiar, Situs Bongal yang terletak di Desa Jago-jago, Kecamatan Badiri, Tapanuli Tengah (hanya berjarak sekitar 94 km dari situs kuno Barus/Lobu Tua) telah mengejutkan dunia arkeologi Indonesia.
Berdasarkan riset dan penggalian yang dilakukan oleh Tim Arkeologi Sumatra Utara bersama BRIN, Situs Bongal menyimpan berbagai benda cagar budaya luar biasa dari abad ke-4 hingga ke-5 Masehi. Yang paling mengejutkan adalah ditemukannya artefak-artefak Kristen Kuno (Early Christianity) dari era Byzantium dan Kekaisaran Romawi:
Pertama, cincin kuno dengan ukiran simbol salib Byzantium.
Kedua, sendok liturgi Byzantium yang digunakan sebagai peralatan ritual ekaristi atau sakramen kuno.
Ketiga, peralatan pembakaran kemenyan serta manik-manik Romawi yang diduga berfungsi sebagai rosario atau perhiasan doa Kristen kuno.
Penelitian ini membuktikan bahwa Kekristenan atau Gereja Timur, khususnya tradisi Nestorian dan Syriac, telah masuk ke pesisir barat Tapanuli jauh sebelum kedatangan penjelajah Eropa seperti Portugis, Belanda, atau Inggris di abad ke-16 dan 17.
Dari Persia dan Syria ke Pesisir Tapanuli: Jalur Perdagangan Kapur Barus dan Rempah
Bagaimana barang-barang liturgi Kristen Ortodoks Syria atau Byzantium bisa sampai di pesisir Tapanuli pada abad ke-4 dan ke-5 Masehi? Jawabannya ada pada jalur perdagangan maritim dunia.
Kawasan Tapanuli, baik Barus maupun Bongal, adalah produsen utama kapur barus (camphor), kemenyan, dan emas yang sangat diburu di pasar internasional. Para pedagang dari Persia, Mesopotamia, India Selatan, dan wilayah Syria yang mayoritas memeluk Kekristenan Syria telah berlayar mengarungi Samudra Hindia dan singgah di pelabuhan-pelabuhan Tapanuli sejak abad awal Masehi.
Para pedagang dan rohaniwan ini tidak hanya bertransaksi komoditas, tetapi juga bermukim, berinteraksi dengan penduduk lokal, dan membawa tradisi keagamaan mereka.
Menghubungkan Kembali dengan Postingan Gelang Siboro
Mari kita tarik benang merahnya dengan tulisan blog terdahulu:
Pertama, pada tulisan Desember 2024, kami mendapati fakta bahwa orang-orang Ortodoks Syria memiliki tradisi memakai gelang benang merah-putih bernama Siboro atau Suboro. Saat itu, kami menganggapnya sebagai fakta unik yang rasanya masih terpisah jarak puluhan ribu kilometer dan berabad-abad lamanya dari asal-usul Marga Siboro.
Kedua, dengan bukti arkeologi Situs Bongal, riset arkeologi terbaru ini mengonfirmasi bahwa komunitas Kristen Syria dan Byzantium benar-benar pernah ada dan beraktivitas di Tapanuli Tengah sejak abad ke-4 Masehi.
Ketiga, penemuan gelang, cincin, dan peralatan ritual di Bongal membuktikan adanya kontak budaya yang intens antara masyarakat lokal pesisir Tapanuli dengan para pedagang dan rohaniwan Ortodoks Syria di masa lampau.
Apakah marga Siboro menyerap atau berinteraksi dengan istilah lokal atau istilah perdagangan kuno yang dibawa oleh para pedagang Syria tersebut? Atau apakah ini jejak akulturasi bahasa dan tradisi yang tertinggal di pesisir barat Sumatra puluhan abad silam?
Tentu saja, kita tidak boleh terburu-buru mengambil kesimpulan ilmiah secara gegabah. Penelitian genetika, linguistik, dan arkeologi lanjutan masih sangat diperlukan untuk membuktikannya secara pasti. Namun yang jelas, penemuan di Situs Bongal membuat hipotesis ini tidak lagi menjadi sekadar imajinasi liar.
Penutup: Mengagumi Jejak Sejarah Leluhur
Penemuan di Situs Bongal Tapanuli Tengah membukakan mata kita bahwa bumi Tapanuli adalah salah satu pusat peradaban maritim tertua dan terpenting di Asia Tenggara.
Membaca kembali postingan blog kita tentang Gelang Merah-Putih Siboro di bawah cahaya penemuan Bongal memberikan rasa takjub tersendiri. Langkah demi langkah, tabir sejarah kuno Tapanuli mulai tersingkap, dan posisi marga serta budaya kita ternyata berdiri di atas hamparan sejarah dunia yang begitu kaya.
Mari terus mengawal riset-riset arkeologi di tanah Tapanuli. Siapa tahu, di kedalaman tanah Bongal atau Barus berikutnya, ada kepingan sejarah lain yang akan menjawab teka-teki asal-usul marga Siboro.
Referensi Publikasi
Sinaga, R., Azhari, I., Simangunsong, L. E., dan Sumantri, P. (2024). Tracing Early Christianity at the Bongal Site, Central Tapanuli District, North Sumatra. Proceedings of the International Conference on Innovation in Education, Social Sciences, and Culture (ICIESC 2023). DOI: 10.4108/eai.24-10-2023.2342302.

Komentar
Posting Komentar