Postingan

Menampilkan postingan dari Oktober, 2023

Desa Bonan Dolok dari udara

Gambar
Desa Bonan Dolok , daerah transmigrasi lokal marga Siboro , dilihat dari udara dengan drone. (Dikutip dari Instagram Khairul Adha Situmorang )

Marga "Siboro" terbanyak di dunia di Indonesia, kemudian dimana?

Gambar
Menurut informasi forebears.io , yg mengumpulkan data nama dan marga dari seluruh dunia, marga (surname) "Siboro" terbanyak di dunia adalah di Indonesia (68%).  Menarik untuk diketahui bahwa marga "Siboro" terbanyak ke dua di dunia adalah di Chad, Afrika (21%). Lihat di https://forebears.io/surnames/siboro . Namun ini marga Siboro yang tidak ada hubungannya dengan Siboro keturunan Datu Parulas Parultop , leluhur marga Siboro suku Batak.

Datu Parultop dan Datu Parulas (10)

Gambar
Oleh  Drs. Djabintang Hasiholan Siboro (Lihat  bagian 1 ,  2 ,  3 ,  4 ,  5 ,  6 ,  7 ,  8 dan 9 sebelum membaca bagian 10 ini) DPP Pergi Meninggalkan Negeri Sagala Berangkatlah DPP melangkahkan kakinya meninggalkan negeri Sagala menuju ke arah timur, menyusuri tebing dan lereng Gunung Pusuk Buhit. Ketika kakinya berhenti diatas Pandulangan (sekarang huta Pandulangan), DPP sambil menghela nafas duduk di sebuah batu. Dia mengarahkan pandangannya ke Danau Toba dan tampak gelombang berkejar kejaran  menuju pantai, lalu airnya surut kembali menyatu dgn dirinya sendiri. DPP masih mengarahkan pandangannya sampai jauh ke utara, tampaklah Hararanggaol dan Siboro Gaung Gaung meskiipun tidak begitu jelas kelihatan dari kejauhan. DPP mengingat dan merenungkan kembali seluruh perjalanan hidupnya hingga di negeri Sagala. Ketika pikiran DPP dirangsang oleh ingatan akan anak anaknya yang ditinggalkannya, tiba tiba bergetar dan berkecamuklah jiwa DPP, ada niat untuk kembali bertemu dan berkumpul dgn

Datu Parultop dan Datu Parulas (9)

Gambar
    Oleh  Drs. Djabintang Hasiholan Siboro (Lihat  bagian 1 ,  2 ,  3 ,  4 ,  5 ,  6 ,  7  dan 8 sebelum membaca bagian 9 ini) Catatan penting Sebelum melanjutkan cerita DPP berikutnya, ada 2  hal penting yang perlu disampaikan disini: 1. Tidak lama (beberapa hari kemudian) setelah DPP menerima tanah yang luas dari TMNH II, datanglah Suha dgn maksud utk berbicara dengan DPP. Suha merasa tugasnya sdh selesai di negeri Sagala, karena itu dia ingin pulang ke Haranggaol dan disampaikanlah niatnya itu kpd DPP. Dengan rasa haru DPP mencegah niat si Suha dan mengatakan: " Kamu janganlah pulang kembali ke Haranggaol , biarlah kita disini bersama sama. Kamu tdk perlu khawatir, sebab begitu luas tanah disini yg bisa kita olah sebagai sumber penghidupan !" Suha tdk menjawab, hanya tertunduk pertanda mengyakan. 2. Ada yg bertanya: " Bagaimana mungkin TMNH II bisa menyerahkan tanah seluas itu kpd DPP tanpa persetujuan dari haha anggina (abang adiknya), yaitu  Sagala Hutaruar dan Sa

Datu Parultop dan Datu Parulas (8)

Gambar
   Oleh  Drs. Djabintang Hasiholan Siboro (Lihat  bagian 1 ,  2 ,  3 ,  4 ,  5 ,  6  dan 7 sebelum membaca bagian 7 ini) DPP Menikah Hari hari seusai mengadakan acara ucapan syukur kpd Mulajadi Nabolon dgn makan bersama di halaman rumah Tuan Mula Ni Huta II Sagala Hutabagas, suasana huta Sagala kini menjadi berbeda. Hari hari menjadi riang gembira ketika penduduk kampung pergi ke sawah bekerja mencari nafkah. Ibu ibu tdk lagi merasa takut melepaskan anaknya keluar dari rumah. Angin berhembus sepoi sepoi ditimpa sinar mentari dipagi hari, sungguh suasana sangat menyenangkan. Tibalah saatnya TMNH II merasa perlu bertemu dan berbicara dgn DPP. Hal ini sehubungan dgn janjinya kpd DPP, lalu beliau  dengan didampingi oleh 7 putrinya mulai berbicara: TMNH II     :  " Sesuai dengan perjanjian kita, disini ada 7 putri saya, pilihlah siapa yg akan menjadi istrimu." DPP      :  Sebelum menjawab, DPP mengamati dan memperhatikan putri raja satu persatu, mulai dari yg sulung sampai putri

Datu Parultop dan Datu Parulas (7)

Gambar
  Oleh  Drs. Djabintang Hasiholan Siboro (Lihat  bagian 1 ,  2 ,  3 ,  4 ,  5  dan 6 sebelum membaca bagian 7 ini) Bunga layu dan berguguran di Siboro Gaung Gaung ketika DPP meninggal (mati sekarat?) Sebelum dilanjutkan cerita DPP berikutnya, sejenak mari kita pertanyakan dulu mengenai babi berkalung rantai dan burung elang berkepala 7. Adalah sangat sulit diterima kalau ke 2 makhluk ini selalu menyusahkan dan membuat menderita penduduk negeri Sagala. Apakah tidak ada di jaman itu diantara penduduk negeri Sagala yg memiliki ilmu (kesaktian) untuk mengusir/membunuh ke 2 mahluk itu? Kemungkinan besar ada dukun sakti marga Sagala, tapi ilmunya tdk cukup ampuh menghadapi ke 2 makhluk itu.  Sehubungan dgn hal tersebut diatas, banyak cerita yg dimiliki berbagai marga di tanah batak. Dahulu, katanya sering terjadi perselisihan dan permusuhan antar kampung dan antar marga, tdk jarang akhirnya memicu perang beradu kekuatan. Kalau sdh berperang, maka peralatan yg digunakan bukan hanya bersifat

Datu Parultop dan Datu Parulas (6)

Gambar
 Oleh  Drs. Djabintang Hasiholan Siboro (Lihat  bagian 1 ,  2 ,  3 , 4 dan 5  sebelum membaca bagian 6 ini) Setelah Datu Parulas Parultop (DPP) masuk ke rumah atas ajakan  penduduk tuan rumah, terjadilah saling bertutur sapa dan memperkenalkan diri masing2. Tuan rumah  (penduduk) adalah marga Sagala (utk selanjutnya kita sebut si Sagala) dan DPP juga memperkenalkan dirinya marga Purba Sigulang Batu. Menjawab pertanyaan DPP mengapa rumah rumah penduduk tertutup pintunya semua? Si Sagala menjelaskan: Bahwa telah berhari hari dan berminggu minggu penduduk negeri Sagala mengalami kesusahan dan merasa ketakutan karena ulah 2 jenis binatang (makhluk aneh) yg belum pernah dikenal selama ini, yaitu: "Aili Siparrante" (babi hutan berkalung rantai) dan "Lali Sipitu Tahal" (elang bekepala 7). Ketika tiba malam hari babi hutan merusak tanaman penduduk, sdh sangat banyak yg dirusaknya. Jika ada penduduk yg mencoba menghalau, babi hutan justru akan menyerang dan melukai penduduk

Datu Parultop dan Datu Parulas (5)

Gambar
 Oleh  Drs. Djabintang Hasiholan Siboro (Lihat  bagian 1 ,  2 ,  3  dan 4 sebelum membaca bagian 5 ini) Jiwa pengembara dan berkelana sdh menjadi karakter Datu Parulas Parultop (DPP), maka tibalah waktu melangkahkan kaki, meninggalkan kampung/huta Siboro Gaung Gaung dan tidak lupa membawa ultopnya. Angin berhembus entah dari mana datangnya, dan entah kemana perginya, tapi DPP tahu dari mana datangnya, namun tdk tahu pasti perginya kemana. Dalam perjalanannya DPP memilih berjalan kaki sambil mangultop burung. Kalau mau... konon DPP berkat kesaktiannya dapat juga berjalan diatas air mengarungi Danau Toba, dengan memakai sarana bulung sukkit, yaitu sejenis palem hutan. Dengan nengikuti irama kemana kaki melangkah, DPP menyusuri pesisir utara dan pesisir barat pantai Danau Toba. Kampung demi kampung dilalui, dan waktu itu penduduk kampung2 yg dilalui belum banyak, terkadang DPP berhenti utk beristirahat dan bermalam di suatu kampung. Usai beristirahat dan bermalan, DPP melanjutkan perjala

"Siboro" di manuskrip tua Batak

Gambar
Apakah ada nama "Siboro" baik sebagai marga maupun nama tempat di manuskrip tua Batak? Berikut manuskrip tua Batak yang diketahui mengandung nama Siboro: 1)  Manuskrip Batak di Garrett Collection Di paper ini dituliskan tentang manuskrip ketiga di Garret Collection di Princeton University Library, dengan topik "parmanuhon adji nangka piring". Di manuskrip ini tertulis nama-nama kepada siapa manuskrip ini diberikan secara berurut.  - Manuskrip ini berasal dari Namora Nai Borhu, - dipelajari oleh Si Radja Urang Pardosi - diajarkan ke Pande... (sebagian dari namanya tidak terbaca). - dia ajarkan ke Guru Humuntal Radja Par ... ilan ni adji Namora Simatupang - diajarkan ke Guru Hapea ni adji Sihombing Lumban Toruan - diajarkan ke Guru So Masangkut ni adji Samusir (ini seharusnya Samosir) yang hidup di kampung [Pe?]ja Raja milik Simanullang Lumban na Mungkut - diajarkan ke saudara iparnya Datu Ronggur ni adji, yang marganya tidak terbaca. - kemudian bersambung ke halaman