Datu Parultop dan Datu Parulas (7)

  Oleh Drs. Djabintang Hasiholan Siboro

(Lihat bagian 12345 dan 6 sebelum membaca bagian 7 ini)

Bunga layu dan berguguran di Siboro Gaung Gaung ketika DPP meninggal (mati sekarat?)

Sebelum dilanjutkan cerita DPP berikutnya, sejenak mari kita pertanyakan dulu mengenai babi berkalung rantai dan burung elang berkepala 7. Adalah sangat sulit diterima kalau ke 2 makhluk ini selalu menyusahkan dan membuat menderita penduduk negeri Sagala. Apakah tidak ada di jaman itu diantara penduduk negeri Sagala yg memiliki ilmu (kesaktian) untuk mengusir/membunuh ke 2 mahluk itu? Kemungkinan besar ada dukun sakti marga Sagala, tapi ilmunya tdk cukup ampuh menghadapi ke 2 makhluk itu. 

Sehubungan dgn hal tersebut diatas, banyak cerita yg dimiliki berbagai marga di tanah batak. Dahulu, katanya sering terjadi perselisihan dan permusuhan antar kampung dan antar marga, tdk jarang akhirnya memicu perang beradu kekuatan. Kalau sdh berperang, maka peralatan yg digunakan bukan hanya bersifat pisik, tetapi ditopang juga dengan kekuatan yg tidak dapat dilihat oleh mata atau yg bersifat mistis (ilmu hadatuon). Ada marga atau penghuni suatu kampung terpaksa terusir (dibuhar) dari kampungnya karena dikalahkan dan dikuasai oleh musuhnya. Tidak jarang pihak yg kalah dijadikan sebagai budak (hatoban). 

Selain dari itu ada juga penduduk suatu kampung dicekam ketakutan luar biasa karena ulah makhluk tertentu. Konon makhluk jenis ini adalah makhluk jadi jadian milik para dukun sakti atau tukang sihir, atau suruhan dari penguasa gaib yg dikeramatkan. Pertanyaannya, apakah ilmu ilmu seperti ini benar adanya? Untuk ini sebagai contoh: Mari kita lihat sejarah masa lampau pada masa Mesir kuno. Firaun (Ramses III), Raja Mesir kuno dalam memimpin kerajaannya selalu didampingi para penasehat sipitialnya, yaitu ahli sihir, ahli tenung, ahli nujum, ahli tafsir mimpi dan sebagainya. Dalam kisah exodus bangsa israel  agar terbebas dari perbudakan Mesir dapat kita lihat, bagaimana kuasa Tuhan melalui Musa didampingi Harun berhadapan dgn kuasa dunia (kuasa kegelapan), dimana Firaun sebagai simbolnya (Civitas Dei versus Civitas Diaboli ).

Sesuai pemahaman diatas bukan tidak mungkin, bahwa aili siparrante (babi berkalung rantai) dan lali sipitu tahal (elang berkepala 7) adalah makhluk jadi jadian, milik para dukun sakti dan ahli sihir yg tdk senang dan merasa iri pada penduduk negeri Sagala. Kita tahu tanah negeri Sagala dan Limbong sangat subur, jauh berbeda dgn daerah diluarnya yg subur. Sangat mungkin ada keinginan pihak luar dgn dukun saktinya menggunakan ilmu ilmu hitamnya agar penduduk negeri Sagala terusir dari tanahnya. Rupanya pada waktu yg tepat datanglah DPP menyelamatkan penduduk negeri Sagala dari marabahaya. 

Mari kita lanjutkan cerita DPP berikutnya:

Nun jauh disana, di huta Siboro Gaung Gaung Haranggaol, rupanya daun daun yg ditanam DPP dahulu telah layu...Melihat itu si Suha tersentak, merasa sedih dan menangis. Tanpa disadari keluarlah air matanya. Dengan melihat pohon yg sdh layu tahulah dia, bahwa DPP sedang berada dalam marabahaya. Ada bisikan pada pendengaran si Suha agar dia mencari DPP kearah gunung Pucuk Buhit.  Sejauh mata memandang, Pucuk Buhit memang dapat dilihat dari Siboro Gaung Gaung.

Berangkatlah si Suha membawa tawar " dipangabang abang - sipangubung ubung, sipangolu naung mate - siparata naung busuk" (ramuan yg dapat menghidupkan orang yg sdh mati dan menyegarkan tubuh yg sdh busuk). Sampan (solu) yg digunakan oleh si Suha bergerak mengarungi permukaan air Danau Toba menuju arah selatan. Sambil mengayuh sampannya berayun ayun diatas gelombang, perasaan si Suha berkecamuk tidak menentu. Si Suha merasa sedih dan khawatir, apakah tawar ini bisa menolong DPP?, pikirnya. Setelah mengarungi danau sekian lama (perkiraan 1 hari lebih)    akhirnya sampai juga si Suha berlabuh di pantai Tulas. Kakinya melangkah, berjalan mengikuti tepian sungai Tulas ke hulu. Dengan rasa lelah dan berpeluh keringat penuh di dahi, maka sampailah si Suha di kampung negeri Sagala. Setelah bertemu dgn seorang penduduk marga Sagala, si Suha meminta agar dia diantar segera ke tempat dimana DPP dibaringkan. Setelah sampai di tempat pembaringan (sopo), si Suha tdk menyia nyiakan waktu langsung mengambil tawar, lalu tawar itu dipercikkan dan disapukan ke seluruh tubuh DPP.

Perlu menunggu beberapa saat. Pada saat menunggu itu, penduduk yg ikut menyaksikan disekeliling DPP dibaringkan,  merasakan ketegangan, kegelisahan dan harap harap cemas. Akhirnya secara perlahan lahan tubuh DPP mulai menggeliat dan bergerak, kemudian bangkit dari pembaringannya dan hidup kembali. Dilihatnya si Suha,  sudah ada disampingnya, mereka berpandangan lalu berpelukan dengan perasaan haru tak terhingga, ada air mata mengalir. Bagaikan sebuah drama yg getir mencekam, banyak penduduk kampung yg ikut menyaksikan peristiwa itu ikut larut dalam keharuan, meneteskan air mata juga. Jasa DPP sangat besar kepada kami, begitulah mereka mengakui dalam hati.

Tuan Mula Ni Huta II (TMNH II ) ikut juga  menyaksikan peristiwa yg menegangkan itu, perasaannya lega dan terharu, lalu dia berbicara kepada penduduk.

TMNH II     :  " Sekarang kita sdh merasa tenang dan terbebas dari gangguan babi hutan bekalung rantai dan ekang berkepala 7. Demi menghormati DPP atas jasanya, kita harus mengadakan acara ucapan syukur kpd Mulajadi Nabolon. Kita harus makan bersama sama dgn DPP dan si Suha. Oleh karena itu saya selaku Raja Penangku Adat meminta, segeralah kalian menyiapkannya.

Penduduk  : " Baiklah amang natua tua (panggilan kpd sesepuh). Kami akan segera mempersiapkannya. Horas...horas...horas."

 Diadakanlah acara itu di halaman rumah TMNH II.Tonggo (doa)  di panjatkan oleh Malim (pemimpin agama Parmalim) kpd Mulajadi Nabolon (Pencipta Maha Besar), selesai martonggo lalu makanlah mereka bersama sama, penuh suka cita. Sekarang mereka sudah bisa tertawa lepas.

(Bersambung ke bagian 8)

(Gambar adalah sekedar ilustrasi, diambil dari https://info637247.wixsite.com/tribalartgilliams/batak)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Datu Parultop dan Datu Parulas (1)

Mengenai Marga Siboro

Huta Haranggaol: Tempat asal marga Siboro