Datu Parultop dan Datu Parulas (10)

Oleh Drs. Djabintang Hasiholan Siboro

(Lihat bagian 12345678 dan 9 sebelum membaca bagian 10 ini)

DPP Pergi Meninggalkan Negeri Sagala

Berangkatlah DPP melangkahkan kakinya meninggalkan negeri Sagala menuju ke arah timur, menyusuri tebing dan lereng Gunung Pusuk Buhit. Ketika kakinya berhenti diatas Pandulangan (sekarang huta Pandulangan), DPP sambil menghela nafas duduk di sebuah batu. Dia mengarahkan pandangannya ke Danau Toba dan tampak gelombang berkejar kejaran  menuju pantai, lalu airnya surut kembali menyatu dgn dirinya sendiri. DPP masih mengarahkan pandangannya sampai jauh ke utara, tampaklah Hararanggaol dan Siboro Gaung Gaung meskiipun tidak begitu jelas kelihatan dari kejauhan. DPP mengingat dan merenungkan kembali seluruh perjalanan hidupnya hingga di negeri Sagala. Ketika pikiran DPP dirangsang oleh ingatan akan anak anaknya yang ditinggalkannya, tiba tiba bergetar dan berkecamuklah jiwa DPP, ada niat untuk kembali bertemu dan berkumpul dgn  anak anaknya dan Op. Nai Asang Pagar boru Sagala Hutabagas. Tapi beberapa saat kemudian keinginan yg muncul itu berganti, terdesak oleh dorongan yg lain yang atinya: " Jika sdh melangkah ke depan, kaki tdk boleh surut kembali ke belakang." DPP sudah membulatkan hati harus melanjutkan perjalanannya. Tapi sebelum melanjutkan perjalanannya, DPP sejenak mencoba merenungkan hari hari dan apa arti serta makna perjalanan hidupnya selama ini. Jika perenungan  DPP diungkapkan dgn kata kata kira kira seperti ini:

Aku melangkah dalam kesendirian, menyusuri jalan jalan yang sunyi,

Kudaki bukit dan kuturuni lemba penuh semak belukar, bahka hutan rimba,

Terkadang aku merasakan kepiluan dalam hati, melihat dan memaknai perjalanan ini,

Sesungguhnya aku tidak tahu, kemana selanjutnya tujuan kaki melangkah,

Takdir serta hari hari kehidupan bukan sepenuhnya berada ditanganku sendiri,

Dan menjadi pengembara sejati, bukan juga sepenuhnya karena keinginan hati semata,

Mungkin ada hukum hukum yang mengatur perputaran roda kehidupan,

Dan aku tetikat, tidak dapat melepaskan diri dari hukum hukum.-

DPP akhirnya beranjak dan  berdiri juga dari batu tempatnya duduk di Pandulangan. Perjalanan dilanjutkan, setelah itu ditengah tengah antara Pandulangan dan Jungak ada sebuah penglihatan kepada DPP,  yaitu melihat bayangan sosok seorang perempuan, tapi sosok itu kemudian menghilang dari penglihatan DPP. Atas kejadian ini DPP kaget dan tdk tahu apa maknanya. Perjalanan berlanjut, Aek Rangat (air hangat bercampur Belerang) dilewati dan sampailah di Pangururan. Di kampung atau di daerah Pangururan ini DPP mengetahui penghuninya adalah marga Naibaho, Sitanggang dan Simbolon. Di daerah Pangururan ini DPP tdk berlama lama. Dia melanjutkan perjalanannya ke arah Utara, menyusuri pantai Danau Toba, melewati berbagai kampung hingga sampai di daerah Tomok Ambarita.

Tersiarlah berita mengenai kedatangan DPP di daerah Tomok. Berita ini sampai juga ke telinga Raja Sidabutar yg berkuasa di negeri Tomok dan sekitarnya, maka disuruhnyalah orang orangnya menemui DPP dgn pesan: " bahwa Raja Sidabutar berkenan menerima kedatangan DPP."  Raja Sidabutar sdh lama mendengar ketokohan DPP sebagai seorang yang memiliki kelebihan dalam hal kesaktiannya. Didengar pula kabar bagaimana DPP berhasil membunuh babi hutan berkalung rantai dan elang berkepala 7.di negeri Sagala. Dan untuk itu DPP mendapatkan istri (putri Raja Sagala Hutabaga) dan juga menerima tanah yg luas. Betul DPP diterima sangat ramah dan di jamu dgn baik oleh Raja Sidabutar. Mereka banyak saling bertukar pengalaman  sambil minum tuak takkasan. Di Tomok DPP tidak lama, dia berpamitan kepada Raja Sidabutar dan mdlanjutkan perjalanannya. Tetapi entah mengapa, DPP berbalik arah kembali menuju arah Pangururan, namun ada yang berkesan: " DPP sempat terpesona dgn keindahan pemandangan alam daerah Tomok.

Dalam perjalanannya yg berbalik arah dari daerah Tomok DPP kembali melewati daerah Pangururan -- Lumban Lintong -- Pintu Sona -- Huta Namora dan Rianiate. Di Rianiate ini DPP mendengar dari penduduk, bahwa sedang terjadi peristiwa saling menyerang antar kampung dan antar marga (marsibuharan), yakni antara marga Nadeak dengan marga lain di perbukitan diatas kampung Rianiate. Marga Nadeak yg mengetahui DPP sedang berada di daerah ini  langsung datang menemuinya. Kedatangan marga Nadeak adalah utk meminta bantuan dan pertongan DPP, berhubung karena mereka sudah kewalahan nenghadapi musuhnya. Marga Nadeak dan marga marga lain memang sdh mengetahui kelebihan DPP dengan kesaktian yg dimilikinya.

Atas permohonan tersebut, DPP menyanggupi untuk membantu marga Nadeak dan secara bersama sama mereka menyerbu musuh dan berhasil. Musuh marga Nadeak gentar dan kewalahan, kemudian lari tunggang langgang menyelamakan diri masing masing. Amanlah perkampungan marga Nadeak, dan sebagai ucapan terimakasih, dengan ikhlas marga Nadeak memberikan sebagian tanahnya kpd DPP dan pemberian itu diterima. Tetapi DPP berpesan kpd marga Nadeak, bahwa bukan dia yang akan mengusahakan tanah tersebut, tapi keturunannyalah kelak di kemudin hari yg akan datang dari Sagala untuk menempati dan mengusahakan itu. Memang di kemudian hari cucu dari Op.Niarga dari Sagala, yaitu Op.Raja Ngingi dan keturunannya, merekalah yg menempati dan mengusahakan tanah pemberian marga Nadeak itu sampai sejarang. Op.Raja Ngingi atau keturunannya mendirikan jampung (huta) disitu, namanya " Huta Nadeak Uruk). Pemberian nama kampung (huta) ini mengandung makna historis sekaligus sebagai penghargaan kepada marga Nadeak.

Pendapat banyak orang waktu itu, seandainya DPP mau memanfaatkan segala kelebihan yg ada padanya, pasti bisa menjadi Raja dgn mendirikan kerajaan entah dimana. Tetapi rupanya tidak, untuk menjadi seorang raja atau penguasa biasanya penuh dgn ambisi, intrik, dan ada juga kelicikan. Tidak ada kawan abadi maupun kawan abadi,  yg ada adalah keoentingan abadi (kepentingan berkuas). Watak atau karakter seperti ini bukanlah watak/karakter jiwa DPP. Dia adalah seorang yg lurus dan berkata jujur sebagai pengembara sejati. Dalam beberapa hal DPP berbeda dgn saudara kembarnya Datu Parultop yg berhasil menjadi raja di kerajaan Pematang Purba Sumalungun dengan gelar " Raja Tuan Pangultop Ultop." Berkat kecerdasan, kecerdikan dan kelicikannya, Raja Tuan Pangultop ultop dihormati dan dipuja di wilayah jerajaannya. Selain itu Datu parultop juga dikenal dgn banyak istri 24 orang. Demikian juga DPP dihormati dan dipuja dimana mana di berbagai tempat dilalui dalam pengembaraannya. Datu Parultop dan DPP sama sama dihormati dan dipuja, tetapi dgn cara dan jalan yg berbeda.

(Bersambung ke bagian 11)

(Gambar adalah sekedar ilustrasi, diambil dari https://info637247.wixsite.com/tribalartgilliams/batak)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Datu Parultop dan Datu Parulas (1)

Mengenai Marga Siboro

Huta Haranggaol: Tempat asal marga Siboro