Datu Parultop dan Datu Parulas (11)

Oleh Drs. Djabintang Hasiholan Siboro

(Lihat bagian 12345678, 9 dan 10 sebelum membaca bagian 11 ini)

Langkah kaki DPP belum berakhir, dari Rianiate DPP masih melanjutkan perjalanannya ke arah selatan Pulau Samosir, melewati berbagai kampung atau desa, seperti negeri Simbolon, Mogang, Palipi dan Urat yg dihuni oleh marga marga Simbolon, Sinaga, Situmorang dan Pandiangan. Di seberang danau disebelah kanan terdapat juga desa desa, antara lain Sihotang, Tamba, Sabulan dan Janjiraja, dihuni marga Sihotang, marga Tamba dan marga Situmorang. Ketika DPP memandang ke negeri Sabulan, dia mengingat dan mengenang kembali pengalaman masa lalunya.   Di negeri Sabulan inilah DPP sepakat untuk berpisah dengan saudara kembarnya Datu Parultop, mereka menempuh jalan hidup masing masing. Dari Sabulan dan Janjiraja inilah dahulu titik awal pengembaraan DPP.
 
Perjalanan dilanjutkan, DPP akhirnya berhenti di sebuah daerah, yaitu negeri " Nainggolan." Tentang keberadaan DPP di daerah ini yg menhadi saksi bisunya adalah sebuah batu yg besar, dinamai " Batara Guru atau Batu Guru," berada di tengah danau, tidak jauh dari pantai, kira kira 50 - 60 meter. Dahulu diatas Batu Guru ini tumbuh pohon beringin yg besar dan rindang sehingga banyak burung burung hinggap di dahan dan rantingnya. Konon Batu Guru ini dahulu seperti benda mengapung diatas permukaan air Danau Toba dan konon pula dapat bergeser atau berpindah pindah kesana kemari sewaktu waktu. Jika hal itu terjadi, penduduk kampung sering merasa ketakutan. Di kabarkan DPP pernah duduk diatas Batu Guru ini sambil mangultop burung. Beliau jugalah yg menghentikan Batu Guru ini sehingga tidak lagi bergerak kesana kemari, tentu saja dengan menggunakan ilmu kesaktiannya.
 
Ketika saat menyusuri pantai tanpa diduga sebelumnnya, di negeri Nainggolan ini DPP melihat ada sebuah situasi yg pelik. Menurut penuturan orang orang tua kita dahulu, DPP bertemu dgn seorang gadis, sedang duduk di pinggir pantai Danau Toba seperti seorang yg sedang putus asa. Teringatlah DPP waktu berjalan  di Pandulangan, dgn mata batinnya melihat sosok seorang gadis seakan ada dihadapannya, lalu menghilang. Tetapi sekarang Gadis itu menangis terisak isak karena mengalami beban berat dan ingin bunuh diri dengan cara menenggelamkan diri ketengah danau. Dari jauh DPP dgn penglihatan mata batinnya dapat mengetahui bahwa dalam diri gadis tersebut terdapat 2 nyawa. Untuk memastikannya DPP mendekati gadis tersebut dan bertanya: " Mengapa menangis?" Gadis tersebut tdk menjawab pertanyaan DPP, melainkan hanya tangisan dan tetesan air mata yg ada, kedua telapak tangannya menutupi wajahnya. Dengan keadaan ini sejenak DPP membiarkan gadis itu dengan tangisannya. Kemudian bertanyalah DPP sekali lagi: " Katakanlah apa sesungguhnya yg terjadi denganmu?" Akhirnya dengan terisak isak berceritalah gadis itu tentang apa masalah yg menimpa dirinya. Setelah mendengar penuturan gadis itu dengan terbata bata, DPP memahami bahwa situasi dan masalah yg dihadapi oleh gadis itu sungguh pelik. Ternyata gadis itu telah berbadan 2 (dua), tapi kehamilannya belum kelihatan menonjol. Pertanyaannya: Siapakah laki laki yg harus bertanggung jawab? DPP berpikir: Gadis ini harus ditolong dengan mencari dan menemukan laki laki tersebut agar bertanggung jawab atas perbuatannya.
 
Menjawab pertanyaan tentang siapakah laki laki yg seharusnya bertanggung jawab tidak langsung dijawab oleh gadis berbadan dua tersebut. Lama dia terdiam dengan isak tangis penuh air mata. Namun tiba juga saat, gadis itu akhirnya menceritakan siapa laki laki itu. Ketika DPP mendengar penjelasan gadis tersebut, keadaan malah menjadi terbalik, justru DPPlah sekarang yg terdiam. Masalah ini sungguh dilematis, karena ternyata laki laki yg seharusnya bertanggung jawab itu ada hubungan darah dgn gadis tersebut (namariboto). Sungguh... DPP merasa terenyuh dan prihatin dengan masalah yg dihadapi oleh gadis ini. Tidak mungkin gadis ini menikah dgn laki laki yg seharusnya bertanggung jawab, sebab laki laki itu adalah saudaranya (namariboto). Atas situasi dan kenyataan ini, DPP menimbang nimbang dalam beberapa waktu dan berpikir: " Gadis ini harus diselamatkan !" Maka untuk menyelamatkan aib gadis itu, DPP akhirnya mengambil keputusan, yaitu dgn menikahi gadis tersebut dengan sepengetahuan dan restu tua tua di kampung itu. Menurut penuturan orang orang tua terdahulu, gadis itu adalah putri dari seorang Raja Huta (Tunggane Huta) di kampung itu.
 
Di hari hari kemudian apa yg terjadi? Belum lama mereka menikah, perut gadis itu tdk dapat lagi ditutupi, sudah kelihatan membesar dilihat orang orang di kampung itu. Muncullah pergunjingan dan tudingan tudingan kepada DPP. Tudingan atau tuduhannya ialah: Bahwa sebelum menikahi gadis tersebut, DPP sudan melakukan perbuatan/hubungan terlarang terlebih dahulu kepada gadis itu (mangulahon naso adat naso uhum). Tuduhan2 tersebut memang tdk secara langsung dikatakan/ditujukan kepada DPP, tapi beliau mendengar bisik bisik di kampung itu. Situasi ini membuat DPP merasa tdk enak dan bersusah hati. Kalau DPP menanggapi bisik bisik itu dan mengatakan masalah yg sesungguhnya, maka sama saja menjadi sia sia pertolongan dan pengorbanannya. Tetapi tidak.. DPP tdk menghiraukan bisik bisik tersebut meskipun Dia bersusah hati. Jiwa gadis yg sudah menjadi istrinya itu tdk boleh hancur, apalagi sampai mengancam keselamatannya karena menderita batin. DPP  dapat menghadapi semua hal dengan tabah. Kalau secara langsung tdk ada yg berani melontarkan tuduhan negatif kpd DPP. Yang membuat DPP tidak enak adalah bisik bisik negatif dibelakang tirai. Namun...seiring dengan berjalannya waktu, sebelum anak yg dikandung gadis lahir, DPP akhirnnya memutuskan untuk pergi meninggalkan negeri Nainggolan, menyeberangi Dananau Toba menuju tanah kelahirannya, yaitu Tipang Bakkara.

 (Bersambung ke bagian 12)

(Gambar adalah sekedar ilustrasi, diambil dari https://info637247.wixsite.com/tribalartgilliams/batak)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Datu Parultop dan Datu Parulas (1)

Mengenai Marga Siboro

Huta Haranggaol: Tempat asal marga Siboro