Datu Parultop dan Datu Parulas (4)

Oleh Drs. Djabintang Hasiholan Siboro

(Lihat bagian 12 dan 3 sebelum membaca bagian 4 ini)

Puncak bukit Siboro Gaung Gaung diperkirakan luasnya kurang lebih 1,5 -- 2 ha. Agak terbatas pemandangan ke sekeliling, karena tempat ini dipenuhi rumput ilalang yg tinggi tinggi. Tempat ini tdk ada penghuninya. Di suatu titik yg agak bersih dari rumput ilalang, terdapat tumpukan pecahan batu. Setelah diperhatikan, ada batu tampak seperti alas tiang rumah disitu, hanya itu yg ada di tempat ini. Sudah pasti pernah berdiri rumah disitu, tapi kita tdk tahu kapan orang tinggal disitu.

Sekarang kita kembali kpd Datu Parulas Parultop (DPP), tentu saja dgn versi yg mungkin berbeda dgn yg lain. Biarlah itu menjadi masukan kepada tim yg bartugas utk itu.

Seperti biasa DPP menjalani hari-harinya dgn kesibukan2, yaitu mangultop burung, mengobati orang yg sakit jika diperlukan pertolongannya dan membantu penduduk di daerah Haranggaol yg terancam oleh orang luar yg ingin memeranginya. Dahulu di berbagai tempat di Simalungun termasuk di Toba sering sekali penduduk antar kampung/desa saling memerangi (marsibuharan). Siapa yg menang akan menjadikan yg kalah sebagai budak (hatoban). Di saat saat sepertilah DPP tampil, lalu menolong penghuni2 kampung di Haranggaol utk mengusir musuh. Dengan keterlibatan DPP menolong orang orang, baik karena sakit maupun mengusir musuh, maka semakin terkenal dan masyhurlah DPP sampai jauh di luar daerah Haranggaol. Tersebarlah berita di berbagai daerah tentang kehebatan dan kesaktian DPP. Karena itu orang luar tdk lagi berani mengusik keamanan dan ketentraman  penduduk Haranggaol.

Waktu berputar, hari hari silih berganti dan perubahan tdk bisa dihentikan. Pada waktu waktu tertentu di Huta Siboro Gaung Gaung DPP pasti pernah duduk sendirian memandang keindahan Danau Toba, lalu mengarahkan pandangannya ke Selatan, jauh ke seberang Danau Toba. Di seberang, tampak gunung Pusuk Buhit menjulang tinggi. Gunung ini memang selalu bisa dilihat dari huta Siboro Gaung Gaung. Pada suatu ketika saat memandang gunung ini, DPP merenungkan sesuatu. Dia mengingat kembali sejarah yg pernah didengar, yg diceritakan oleh para leluhur, bahwa gunung Pusuk Buhit dan Sianjur Mula Mula adalah tempat, dimana Siraja Batak membuka perkampungan pertama kali (perkampungan bernama Parik Sabungan). Ingatan akan sejarah kampung leluhur ini membekas dalam dihati DPP, tetapi berhubung karena kesibukannya sehari hari, ingatan itupun terlupakan. Banyak orang membutuhkan jasanya, ditambah lagi dengan kesibukan menyalurkan hobbynya mangultop. Tapi apa yg pernah dipikirkan dan direnungkannya pernah diceritakan kpd anak dari abangnya (Purba Dasuha). Anak itu oleh DPP dipanggil si Suha.

Pada suatu hari, secara tiba tiba timbullah niat DPP untuk pergi meninggalkan huta Siboro Gaung Gaung dan niatnya itu kemudian disampaikan kpd kerabat keluaga Purba Dasuha. Lalu, untuk mengetahui tanda tanda tentang apa yg akan terjadi dalam perjalannya dimasa datang, ditanamlah sebuah pohon (bunga raya?), lalu berpesanlah DPP kpd si Suha. Begini dialognya:

DPP  : Pada waktunya saya akan pergi dari kampung kita ini dan tdk dapat memastikan akan kemana. Apabila dalam perjalanan saya mengalami marabahaya, maka pohon inilah yg akan nenjadi pertanda. Kalau daun daun pohon sdh layu dan berguguran, itu artinya saya berada dalam bahaya. Datanglah kamu mencari saya dan jangan lupa membawa: Tawar Sipangabang abang -Sipangubung Ubung - Sioangolu naung mate - Siparata Naung Busuk (obat  ramuan yg dapat menghidupkan orang mati dan nenyegarkan tubuh yg sdh busuk).

Si SUHA  :  Jika hal itu terjadi, kemana saya akan mencari?

DPP :  Nanti kamu akan tahu, pikiran dan mata batinmu yg akan memberitahumu.

Si SUHA  :  Mendengar itu si Suha terdiam hanya mengangguk.

(Bersambung ke bagian 5)

(Gambar adalah sekedar ilustrasi, diambil dari https://info637247.wixsite.com/tribalartgilliams/batak)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Datu Parultop dan Datu Parulas (1)

Mengenai Marga Siboro

Huta Haranggaol: Tempat asal marga Siboro