Huta Haranggaol: Tempat asal marga Siboro

(Tulisan ini dikutip dari tulisan Drs. Djabintang Hasiholan Siboro)

Seusai berkunjung ke Kuba Perdagangan, perjalanan dilanjutkan ke kampung (huta) dari Op.DPP yang dahulu bermukim di kampung (huta) Siboro Gaung-Gaung.  Penulis malah sudah 2 kali berkunjung ke huta Siboro Gaung-Gaung yang berada di sebuah puncak bukit. Letak Bukit Siboro Gaung-Gaung persis dibelakang  pekan/tiga/onan Haranggaol dengan jarak kurang lebih 1 km.  Di kaki bukit terdapat 3 kampung marga Purba Siboro, salah satunya dinamai “Huta Siboro”, kampung orang tua dan leluhur almarhum Ir. Rusman Purba Siboro. 

Bukit Siboro Gaung-Gaung dari semua sisi sangatlah terjal. Kalau mau mendaki ke bukit itu tidaklah mudah, harus memegang batang daun-daunan atau rumput ilalang.   Jadi harus berhati-hati, karena kalau tidak bisa terjatuh. Mendaki bukit ini rasanya seperti merayap dan menggantung (gaung-gaung), mungkin karena itu bukit ini disebut “Siboro Gaung-Gaung”. Menjelang puncak bukit, kita harus memegang sebuah “akar pohon” sebesar ibu jari untuk bisa sampai di puncaknya.  Menurut cerita penduduk di Haranggaol, “akar pohon” ini dari dulu sampai sekarang tidak pernah berubah, tetap sebesar ibujari. Di samping atau didekat akar pohon tersebut terdapat subuah batu bertulis dengan huruf Sanskerta. Menurut informasi belum ada yang menterjemahkan arti tulisan ini. Lagi pula tulisan yang ada pada batu tersebut sudah agak buram, mungkin terkikis secara perlahan dimakan waktu. 

Di puncak bukit terdapat dataran seluas kurang lebih 1½ - 2 Ha, ditumbuhi oleh ilalang yang tinggi-tinggi. Tidak ada lagi penghuni yang mendiami tempat ini, sisa-sisa bangunan juga tidak ada, yang ada hanya beberapa batu berserakan.  Kalau dilihat dari bentuk batu-batu ini, mungkin batu ini dahulu digunakan sebagai landasan tiang rumah dan disinilah dahulu Op. DPP bermukim.  Pemilihan tempat ini  dahulu  sengaja dilakukan dengan pertimbangan yang matang, untuk mencegah/menangkal serangan musuh dari luar. Di jaman itu konflik (parbadaan) dan perang mungkin sering terjadi antar kelompok, antar wilayah atau antar marga.

Pengalaman penulis masih dilanjutkan. Di salah satu sisi bukit terdapat sebuah lembah, di tengah-tengahnya terdapat sebuah sungai mengalir dan di kiri- kanan sungai ditumbuhi pohon-pohon besar. Waktu itu penulis melihat ada beberapa pohon yang sangat besar sudah tumbang dimakan usia tua. Lebih menarik lagi, ternyata air sungai itu bersumber dari mata air yang memancar keluar dari dinding bukit (air terjun).  Air terjun setinggi kurang lebih 7 meter ini sangatlah jernih dan segar diminum. Tidak menyia-nyiakan kesempatan, penulis beserta rombongan mandi di air terjun ini, wah… betul betul sangat menyegarkan. Bolehlah menyebut air terjun ini: “Aek Sipasombu Uas-Sipaulak Hosa Loja”(air pemuas rasa dahaga dan pemulih rasa lelah). Konon disinilah tempat pemandian Op.DPP dahulu. Sebelum mandi biasanya Op.DPP beristirahat dulu sambil duduk-duduk di sebuah liang (gua) yang terletak disamping air terjun, liang itu masih ada sampai sekarang. Penulis menyebut Sungai ini “Aek Siboro Gaung-Gaung,” bermuara ke pantai Haranggaol (Langgiung).

Menyaksikan semua ini penulis sungguh terkesan dan terinspirasi, terlebih-lebih dengan melihat keindahan dan kejernihan sungai ini. Untuk mengenangnya marilah kita sejenak berpuisi tentang “Air”:

Engkau adalah kekuatan sekaligus kelembutan,
Engkau kesejukan sekaligus sumber hidup,
           Entah dari mana asalmu, tapi kutahu,
           Engkau memulai perjalananmu dari hulu.
Tentu perjalananmu sudah jauh, menuruni bukit terjal dan menyusuri lembah penuh bebatuan,
Tentu engkau bercanda juga dengan keheningan kesunyian malam.
Seandainya bisa ,aku rindu mendengar ceritamu, disepanjang perjalananmu yang begitu jauh,
Akankah engkau akan kembali ke tempat asalmu memulai?
Seandainya engkau bisa bericara dan bertanya apa yang kumaksud,
Maka engkaulah yang kumaksud “O Sungai Siboro Gaung-Gaung”.

Perlu diceritakan sedikit  mengenai nama Haranggaol dimana huta Siboro Gaung-Gaung berada di daerah ini. Nama Haranggaol awalnya berasal dari 2 kata “Harangan” dan “Gaol” (Hutan dan Pisang). Dahulu daerah ini penuh dengan tanaman pisang sehingga kelihatan seperti hutan pisang dan terkenal pula dengan buahnya yang besar-besar seperti pisang ambon. Untuk tidak terlalu panjang menyebutnya, maka jadilah dua kata itu menjadi “Haranggaol.” 

Dahulu, Haranggaol pernah sangat penting perananannya. Setahu penulis waktu kecil, paling tidak pada awal tahun 50an sampai akhir 70an, Haranggaol adalah  kota pelabuhan  sekaligus  sebagai pekan (tiga/onan). Kota pelabuhan ini memang kecil, tapi berfungsi sebagai kota transit bagi penduduk bagian barat Pulau Samosir dan penduduk pesisir pantai barat dan utara Danau Toba yang akan bepergian  ke Sumatera Timur. Setiap hari Senin dan hari Kamis, kota ini menjadi ramai sebagai pekan (tiga/onan) untuk jual-beli macam-macam barang dagangan, terutama bawang merah dan bawang putih. Tetapi peranan kota ini kemudian menjadi surut setidak-tidaknya karena dua hal: 

1. Komoditi bawang merah tidak tahu kenapa, tidak bisa tumbuh lagi dengan baik di Pulau Samosir dan daerah pesisir pantai Danau Toba bagian barat dan utara.  Keadaan menjadi seperti ini hampir bersamaan waktunya setelah didirikannya pabrik bubur kertas (pulp) di daerah Porsea.

 2. Orang kalau mau bepergian ke Sumatera Timur, tidak lagi melalui Haranggaol, tetapi sudah melalui Parapat dengan menggunakan kapal Ferry, yang sekaligus dapat mengangkut kendaraan pribadi dan kendaraan umum. Selain itu orang bisa langsung bepergian dengan menggunakan kendaraan melalui jalur Tele, Dairi, Karo  hingga sampai ke Medan.  Sekarang ini boleh dikatakan Haranggaol sudah menjadi kota mati. 

Ijinkanlah penulis menceritakan sebuah pengalaman pribadi.  Waktu kecil penulis selalu berharap, kapan orangtua mengajak penulis ikut ke Haranggaol.  Kalau orang tua mengajak dapat dipastikan akan singgah di sebuah kedai atau restoran bakmi.  Nama restoran itu adalah “Kedai Bahagia.” Bayangkan makan bakmi waktu kecil di jaman itu bagi orang kampung, sungguh luar biasa.  Kalau penulis sudah makan Bakmi “Kedai Bahagia”   perut terasa menjadi kenyang dan hatipun senang.  Jarang anak kecil dari kampung penulis bisa makan bakmi di Haranggaol.  Pemilik kedai ini adalah Orang tua-Sesepuh kita, St. M. Rekes P Siboro, orang tua dari St, Drs. Darma P Siboro.  Ha…Ha…Setelah pulang dari Haranggaol wajah penulis berseri-seri ketika tiba di Bonandolok, kampung penulis. Kepada teman-teman sepermainan, penulis bercerita tentang hal itu membuat mereka termangu-mangu.

Sesungguhnya penulis ingin mengetahui lebih jauh sejarah Haranggaol ini di masa silam serta daerah-daerah lain di Simalungun yang dihuni oleh marga Siboro atau Purba Siboro, barangkali bisa ditemukan rangkaian hubungan-hubungan dengan  sejarah Op. DPP, karena beliau pernah bermukim di daerah ini.  Namun penulis belum menemukan narasumber yang dapat memberikan informasi.  Saudara-saudara  kita Purba Siboro yang ada di Haranggaol belum ada juga yang dapat menjelaskannya secara  memadai.

(Foto berikut ini disebut sebagai pemandangan Siboro Gaung Gaung oleh @andiksiboro, namun sepertinya ini adalah pemandangan di Kampung Siboro Pagar Batu, yaitu kampung setelah pindah dari kampung Siboro Gaung Gaung)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Datu Parultop dan Datu Parulas (1)

Mengenai Marga Siboro