Bonan Dolok: Daerah Transmigrasi Lokal Marga Siboro

(Tulisan ini dikutip dari buku "Pusuk Buhit Sianjur Mula Mula, Datu Parulas Parultop dan Keturunannya Marga Siboro" tulisan Drs. Djabintang Hasiholan Siboro)


Foto Bonan Dolok oleh Guntur Siboro (Lihat lokasi di Google Maps)
Lihat juga Bonan Dolok dari udara.

Bonandolok adalah subuah kawasan daerah pantai, berada dibalik bukit disebalah barat daya negeri Sagala atau sebelah barat pantai Tulas.  Batas pemisah antara negeri Sagala dengan Bonandolok ialah bukit (Dolok) Siboulangit.  Dahulu, waktu Op.DPP melintasi daerah ini  masih berupa rawa-rawa dan semak-belukar sebelum sampai di pantai Tulas  dalam perjalanannya ke negeri Sagala, waktu itu belum ada penghuni di Bonandolok.  

      Posisi kampung Bonandolok berada di sebuah teluk.   Kalau berkunjung ke daerah ini dengan menumpang kapal, harus melewati tanjung “Simardaligan,” Dari tanjung ini tampaklah betapa indahnya panorama alam Bonandolok. Ada kira-kira 1.1/2 Km dari tanjung Simardaligan untuk sampai di pantai Bonandolok.  Beberapa sungai tampak mengalir yang bersumber dari hutan pegungunan, yakni: Binanga Burung, Binanga Date, Binanga Sibontar dan yang paling besar ialah “Binanga Sitapigagan.”  Bonandolok adalah daerah berdindingkan bukit disebelah timur, selatan dan sebelah barat, dan disebelah utaranya adalah Danau Toba.

        Salah seorang keturunan Op.Ni Arga, yakni Op.Ni Utul (generasi ke 6) pergi manombang (transmigrasi lokal) ke Bonandolok. Alasan pertama, tanah atau lahan yang bisa diolah di negeri Sagala sangat sempit.  Alasan kedua, menurut orang tua kurang serasi tinggal di Sagala, karena beberapa generasi keturunan Op.Ni Arga hanya satu-satu.  Dan alasan yang terakhir, Op.NI Arga dan keturunannya tidak mendapatkan bagian tanah warisan yang cukup.  Hal ini berhubungan dengan posisi Op.Ni Arga sebagai sibitonga (anak no.2) diatara yang sulung Op.Bangundongoran dan yang bungsu Op. Pangaribuan.  Sudah menjadi adat ni Sijolo-jolo tubu, anak sibitonga tidak bisa berharap banyak akan tanah warisan.  Atas dasar alasan tersebut, manombanglah Op.Ni Utul ke Bonandolok, beliaulah yang pertama membuka perkampungan di situ sambil mengolah tanah rawa-rawa dan semak belukar menjadi tanah persawahan.  Tanah persawahannya menjadi luas dengan hasil panen yang sangat melimpah.  Dikemudian hari Op.Ni Utul mengajak juga saudaranya (dongan tubu) dari keturunan Op.Bangundoran, yakni keturunan dari Ama Ni Tarsuman (leluhur keluarga Appa ngabing, Ap. Gemmi dan Am. Jumollang) agar mereka dapat bersama-sama mengolah tanah pertanian di Bonandolok.  Setelah mereka, datanglah menyusul marga Sagala.  Marga Sagala Simangariring (posisi hula-hula) keturunan Op Ni Utul, sebenarnya sudah lebih dahulu ada di Bonandolok tapi bertempat tinggal atau mendiami sebuah bukit yang dinamai “GU.” Dikemudian hari baru turun dari Gu lalu mendirikan perkampungan dinamai “Huta Sitabu.”  setalah itu menusul marga Sagala Parbunbunan (posisi boru) dari Op.Ni Utul.  Kedua marga ini berinduk pada marga Sagala Hutaruar.

        Di Bonandolok Op.Ni Utul mempunyai putra 4 orang, yaitu: 1. Op.Pareme, 2. Op.Godar, 3. Op.Gojor,dan  4. Op.Toga Raja.  Keturunan dari mereka inilah marga Siboro dari kelompok (horong) Op.NI Arga.  Penulis adalah generasi ke 7 terhitung dari Op.Ni Utul dan generasi ke 12 dari Op.Ni Arga (atau ke 13 dari Op.DPP).  Sekarang ini sudah ada generasi ke 16 dari Op.NI Arga (atau ke 17 dari Op.DPP).  Di suatu ketika dimasa lalu pada jamannya ke 4 oppu diatas, pernah terjadi peristiwa banjir bandang.  Sungai yang dinamai Binanga Burung yang kecil tiba-tiba meluap dengan arus sungai yang luar biasa besarnya, dan itu terjadi di malam hari.  Perkampungan (huta) marga Siboro yang ada di muara sungai bernama “Sijagarjagar” hanyut disapu bersih oleh banjir bandang ke tengah danua, tidak jauh dari pantai.  Hanya sedikit marga Siboro yang selamat ketika itu.  Menurut orang-orang yang pernah melihat, pada pagi hari ketika air danau dalam keadaan tenang, dibawah air danau itu masih bisa dilihat bayangan kampung (huta) yang hanyut itu.  Waktu  penulis masih di kampung,  belum sempat mencoba melihatnya.

       Ada cerita dari orang tua sehubungan dengan peristiwa banjir bandang tersebut.  Ke 4 Oppu, putra dari Op.Ni Utul tersebut diatas adalah keluarga kaya. Tentu saja ukuran kaya waktu itu adalah memiliki tanah sawah yang luas dan ternaknya banyak. Pada suatu hari datanglah seseorang, usianya sudah tua, berpakaian compang-camping dan buruk rupa.  Orang tua itu menemui Op.Pareme dan meminta nasi karena sudah merasa lapar.  Op.Pareme rupanya tidak berkenan memberikan nasi dengan mengatakan tidak ada nasi, apalagi setelah melihat tampang orang tua itu mungkin membuatnya mersa jijik.  Orang tua itu kemudian mengatakan: “Kalau tidak ada nasi, remah-remahpun bolehlah.” Op.Pareme menjawab: “Remah-remah akan diberikan untuk makanan pinahan lobu (ternak babi).”  Orang tua itu mengajukan permohonan sekali lagi: “Kalau tidak ada nasi dan remah-remah, mohonlah diberi air minum karena saya merasa haus.” Rupanya Op.Pareme semakin jengkel kepada orang tua itu dan mengatakan airpun tidak ada. Orang tua itu akhirnya berkata:   “Kalau tidak ada air berarti kalian kekurangan air, nanti kalian akan mendapatkan air yang banyak.”  Tiba-tiba orang tua itu menghilang.  Dan benar pada malam harinya terjadilah banjir bandang itu sehingga hanyutlah huta Sijagarjagar.  Di lokasi bekas huta “Sijagarjagar,” sekarang hanya berisi tumpukan batu-batu besar akibat banjir besar itu. 

      Setelah peristiwa tersebut, perkampungan (parhutaan) marga Siboro kemudian pindah ke Siombur-Ombur, letaknya di pertengahan antara kampung Banjar Siboro dan Sipinggan.  Karena sesuatu hal, dari Siombur-Ombur perkampungan dipindahkan lagi ke satu tempat yang dinamai Gareja, di pertengahan antara kampung Banjar Siboro dan kampung Sigaol. Untuk terakhir kalinya perkampungan (parhutaan) pindah lagi, itulah yang sekarang disebut kampung (huta) “Banjar Siboro” sekarang.  Menurut orang tua, waktu membuat perkampungan (huta) Banjar Siboro, ikut juga marga Simaibang.  Marga Simaibang katanya bertugas membuat penangkal (pagar ni huta) agar huta “Banjar Siboro” terhindar dari niat-niat jahat orang lain.  Mungkin marga Simaibang mempunyai ilmu yang berhubungan dengan urusan membuat penangkal (pagar ni huta).

       Kira-kira 70 atau 75 tahun yang lalu, dibangun lagi perkampungan (parhutaan) marga Siboro,  disebut juga namanya “Huta Sijagarjagar”sebagai pengganti perkampungan (parhutaan) yang dulu telah hanyut diterjang banjir besar. Yang mendirikannya adalah Amar Jaeba (Op. Batu Raja, digelari Tuan Hinalang), keturunan Op. Pareme.   Orang-orang tua dulu meyakini, bahwa orang tua yang berpakaian compang-camping dan buruk rupa, yang permintaanya ditolak oleh Op. Pareme bukanlah manusia biasa, tetapi dia adalah sosok atau wujud berdimensi supranatural yang bisa muncul dan menghilang secara tiba-tiba (orang tua menyebutnya Namartua-tua atau Habonaran).  Kemunculannya adalah untuk menguji hati manusia, apakah berhati baik atau berlaku sombong. 

       Peristiwa tersebut adalah salah satu penyebab mengapa marga Siboro tidak banyak di Bonandolok, justru marga Sagala yang paling banyak, terutama marga Sagala Parbunbunan.  Pada umumnya mereka adalah boru (na pinupus ni) marga Siboro keturuanan Op.Ni Utul.  Dengan demikian banyaklah tanah sawah keturunan Op.Ni Utul menjadi milik marga Sagala Parbunbunan sebagai “Ulos So Ra Buruk “(disimbolkan tanah itu sebagai kain yang tidak pernah lapuk).

       Namun ada satu hal yang patut dicatat;  marga Sagala Parbunbunan selalu menghormati marga Siboro sebagai hula-hulanya (pihak pemberi istri) kepada mereka.  Meskipun sedikit jumlah marga Siboro di Bonandok namun tetap dihormati sebagai Raja Jolo (primus interpares).  Terbukti marga Siboro sudah berpuluh tahun memegang tampuk pimpinan  pemerintahan Desa (Kepala Desa).  Sejak tahun 50 sampai sekarang, Kepala Desa (dahulu Kepala Kampung) masih dipercayakan oleh penduduk desa Bonandolok kepada marga Siboro.  Hanya satu periode pernah dijabat oleh marga Sagala Parbunbunan.  Posisi marga Siboro diperkuat juga oleh  kelompok Tulangnya (Hula-Hula) marga Sagala Simangariring dan pada umumnya marga Sagala Parbunbunan sebagai boru serta ditambah lagi dengan boru-bere marga Simarmata.

      Joro (bait doa) menurut kepercayaan lama terdapat di dekat atau tidak jauh dari tempat jatuhnya air terjun sungai Sitapigagan yang dikeramatkan.  Yang membangun, memelihara  dan  merawat joro tersebut  adalah marga Siboro.  Ini menjadi salah satu bukti bagaimana posisi marga Siboro demikian penting ditengah-tengah marga-marga yang ada di Bonandolok.  Pada tahun 1964 pernah terjadi banjir besar, air sungai Sitapigagan meluap dengan volume air yang sangat luar biasa.  Waktu itu hujan lebat memang turun selama beberapa hari.  Akibatnya, seluruh sawah yang ada di kiri-kanan sungai hancur dirusak oleh batu-batu besar yang menggelinding terbawa arus sungai, tetapi anehnya, Joro yang berada di tengah-tengah persawahan yang rusak itu selamat,  tidak terjadi apa-apa pada bangunan Joro itu.  Peristiwa ini disaksikan oleh penulis ketika masih SD kelas 6, ajaib juga.  Sampai sekarang seluruh sawah yang rusak itu hanya berisi batu-batu besar, tidak bisa dijadikan persawahan lagi.

      Dahulu, kalau ada orang yang sakit yang tidak kunjung sembuh atau mempunyai masalah serius, peranan dukun sangat penting.  Kalau dukun mengatakan orang tersebut harus margondang (menyelenggarakan musik gendang), salah satu syaratnya adalah air sungai Sitapigagan harus diambil. Orang tersebut harus datang ke sungai Sitapigagan dengan membawa ayam putih dan ayam merah.  Ayam putih harus dilepas sebagai persembahan kepada penguasa mistis (gaib) sungai Sitapigagan dan ayam merah dipotong untuk dimakan bersama dengan penduduk yang datang kesitu.  Konon, menurut kepercayaan jaman itu, penguasa sungai Sitapigagan memiliki kuasa besar menyembuhkan penyakit yang tidak sembuh-sembuh atau menolong orang-orang yang tidak berketurunan.  Dari berbagai kampung atau dari desa di Samosir banyak yang datang pada masa itu untuk mengambil air sungai Sitapigagan, tapi harus dengan cara yang sopan. Sebab sering terjadi apabila ada orang dari luar kampung datang mengambil air atau mandi tanpa permisi di sungai Sitapigagan, barang-barangnya, misalnya berupa cincin atau jam tangan bisa hilang tanpa disadari.  Sekarang  tidak tahu apa masih ada orang yang datang mengambil air sungai Sitapigagan untuk tujuan seperti disebutkan diatas,  penulis tidak tahu lagi karena sudah lama meninggalkan kampung halaman.  Nampaknya penduduk sekarang sudah lebih percaya kepada gereja, dengan melalui doa permohonan dipanjatkan langsung  kepada Tuhan, bukan kepada yang lain.

      Dimasa lalu, antara tahun 50an sampai pertengahan 80an, Bonanandolok sempat terkenal sebagai produsen kayu olahan dan rotan.  Kayu olahan berupa papan, kaso dan lain-lainnya dipasarkan/dijual keseluruh pesisir pantai yang ada di Danau Toba.  Di masa itu penduduk Bonandolok boleh dikatakan cukup baik kehidupan ekonominya. Penghasilan bersumber dari hasil sawah, tanaman bawang, dari kayu gelondongan serta rotan yang diambil dari hutan kemudian diolah.  Keadaan berubah tahun 80an, ijin pengambilan kayu tidak diperpanjang lagi oleh pemerintah (moratorium) dengan alasan sudah terjadi penggundulan hutan, demikian juga tanaman bawang tidak dapat lagi tumbuh dengan baik, tidak tahu apa penyebabnya. Bawang tidak dapat tumbuh dengan baik bersamaan waktunya dengan beroperasinya pabrik pulp (bubur kertas) milik PT. Indorayon yang ada di daerah Porsea- Kapupaten Toba Samosir. Apakah ini ada hubungannya?  Penulis belum mengetahui apakah penelitian sudah pernah dilakukan sehubungan dengan hal tersebut.  Karena itu penanaman bawang sudah tidak dilakukan lagi karena tidak menghasilkan.  Dan sejak itu kehidupan ekonomi masyarakat di Bonandolok menurun.

      Demikianlah gambaran mengenai Bonandolok sebagai tano panombangan (lokasi transimigrasi lokal) pada masa lampau. Op. NI Utul bermukim di kampung Bonandolok diperkirakan kurang lebih 200-225 tahun yang lampau.  Jika ditarik garis silsilahnya keatas, Op. Ni Utul adalah anak dari Op. Sojouon, anak Op. Mangau, anak Guru Tinatea, anak Op. Jabuhit, anak Op. Ni Arga, anak Op. Datu Parulas Pangultop.  Namun demikian, perjalanan waktu sentiasa membuat segala sesuatu berubah dan berkembang terus menerus.  Kini keturunan dari Op. Ni Utul hanya sedikit yang tinggal (mangingani)  di Bonapasogit Bonandolok. Sebagian besar  sudah pergi ke berbagai penjuru tanah air, bahkan ada yang di luar negeri.  Tujuannya adalah mengharapkan akan mendapatkan kehidupan yang lebih baik.  Harapan kita semoga demikian adanya.

      Untuk memperkaya tulisan dalam buku ini, penulis Ingin rasanya mendiskripsikan (mengurai gambaran) kondisi geografis dan demogarafis kampung (huta) marga Siboro di tempat-tempat lain, bagaimana kehidupannya dan bagaimana posisinya diantara marga-marga yang ada  disitu.  Tetapi data, informasi dan pengetahuan penulis sangatlah terbatas.  Suatu waktu buku ini masih dapat dikembangan dengan tambahan masukan data dan informasi dari kita semua yang berasal dari berbagai kampung di Bonapasogit.  Untuk ini penulis mengetuk hati kita semua, mohon memberikan perhatian dengan sumbangan masukan agar materi buku ini dapat dianggap layak serta memadai.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Datu Parultop dan Datu Parulas (1)

Mengenai Marga Siboro

Huta Haranggaol: Tempat asal marga Siboro