Datu Parultop dan Datu Parulas (1)

Oleh Drs. Djabintang Hasiholan Siboro


Untuk mendapat gambaran  atau hopotesis (kebenaran  sementara) tentang siapa Datu Parultop dan siapa Datu Parulas, ada baiknya pembahasan kita mulai dari Purba Sigulang Batu dari Tipang Bakkara, sekarang masuk Kecamatan Bakti Raja, Kabupaten Humbahas.

Ompu kita Purba Sigulang Batu anaknya adalah Parlakka Jolo/Partali  Ganjang. Secara tangga berjenjang Parlakka Jolo/Partali Ganjang memperanakkan Guru Sotongguon -- memperanakkan, 

1. Somalate,
2. Datu Rajin (sekarang keturunannya tetap menyandang marga Purba Sigulang Batu), mereka sebagian besar tinggal di bonapasogit Tipang Bakkara dan di Dolok Sanggul sekitarnya.

    Untuk selanjutnya Somalate yg digelari juga Tuan Raja Doli mempunyai 2 anak kembar, yaitu: 

1. Datu parultop, dan
2. Datu Parulas. 

Lalu karena ahli juga mangultop, maka Datu Parulas dikemudian hari dikenal menjadi Datu Parulas Parultop (DPP). Diketahui hobby atau kesenangan dari 2 bersaudara kembar ini adalah berburu berbagai macam jenis burung dengan menggunakan senjata ultopnya. Dari waktu ke waktu mereka sungguh larut dengan hobbynya. Tapi pada suatu hari di tempat perburuannya di Kampung Janji Raja yg bertetangga dgn Tipang Bakkara mereka berdua mendengar berita, bahwa ayah mereka sdh meninggal . Lalu berkatalah DPP kepada Datu parultop:

"Bang...ayah kita sdh meninggal dan lama baru kita tahu, sehingga kita tdk dapat menghadiri penguburannya. Karena itu rasanya tidak ada lagi gunanya kita pulang. Sebaiknya berpisahlah kita disini menempuh dan nenapaki perjalanan hidup masing masing dgn arah yg berbeda."

Datu Parultop menyeyujui usul adiknya DPP dan berkata: 

"Bagaimana cara kita menentukan arah perjalanan kita?" 

DPP menjawab: 

"Jika abang memilih ke arah timur, saya ke arah barat dan jika abang  ke utara, saya ke selatan. Pendeknya arah kita harus berbeda." 

Sepakatlah mereka utk menentukan arah dgn cara menghembuskan mata ultopnya ke udara. Setelah mata ultopnya jatuh dan kemana arahnya, maka ke arah itulah Datu Parultop dan DPP arah sebaliknya.

Selanjutnya dalam perjalanan masing masing adalah sebagai berikut:

Datu Parultop

Datu Parultop dengan segala ilmu yg dimilikinya sampailah di Tuntung Batu, Silima Pungga Pungga, daerah Pakpak Dairi. Disana dia berhasil membantu Raja marga Sambo ketika berperang melawan orang aceh dan berhasil mengusir orang aceh. Dengan rasa gembira dan senang hati Raja Sambi berkenan memberikan putrinya menjadi istri dari Datu Parultop dan juga menyerahkan/memberikan tanah yg luas kpd DPP sebagai tanah ulayat (tano golat).

Keturunan DPP dari istrinya boru Sambo lahirlah anaknya yg diberi nama Cibro. Konon menurut cerita dari salah seorang marga Cibro bernama Mungkin Cibro, pernah menjadi Kepala Desa Tuntung Batu, katanya Cibro dimasa kecilnya sangat nakal. Karena kenakalannya dinamailah dia " Cibro" artinya kecebong (anak katak). Dikemudian hari keturunan dari Cibro Tuntung Batu ada yg merantau ke tanah Karo. Disana keturunannya menyandang marga Tarigan Sibero.

Setelah berketurunan di Tuntung Batu, Datu Parultop  pergi juga meninggalkan Tuntung Batu, pergi ke daerah Simalungun, tepatnya daerah kerajaan Pematang Purba. Disitu Datu Parultop berkenalan dgn rajanya bernama Tuan Simallobong marga Purba Dasuha. Mula mula DPP diterima dgn baik oleh Tuan Simallobong. Tapi berhubung karena satu dan lain hal, Raja Tuan Simallobong tdk lagi menyukai Datu Parultop dan akhirnya menjadi perkara besar. Mengapa? Di ruang ini terlalu panjang kalau di uraikan secara lengkapnya.Tapi Inti dari penyelesaian perkara/persoalan adalah dgn menyatakan sumpah. Isi sumpahnya adalah " Kutuk kematian atau memperoleh kerajaan." Datu Parultoplah yg mengucapkan sumpah itu. Setelah hari berganti hari, bulan beganti bulan dan tahun berganti tahun, ternyata Datu Parultop tidak mati dan terhindar dari kutuk. Karena janji harus ditepati, Akhirnya Raja Tuan Simallobong menyerahkan kerajaan kepada Datu Patultop, lalu digelari Raja Tuan Pangultop Ultop. Datu Patultop digelari juga Raja Langit dan ada juga dalam cerita dia bernama Raendan. Keturunan Datu Parultop di Pematang Purba  adalah Purba Pakpak (Purba hun Pakpak), maksudnya Datu Parultop adalah marga Purba yg datang dari Pakpak. 

(Bersambung ke bagian 2)

(Gambar adalah sekedar ilustrasi, diambil dari https://info637247.wixsite.com/tribalartgilliams/batak)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Mengenai Marga Siboro

Huta Haranggaol: Tempat asal marga Siboro