Marga Pinarik saudara dari marga Cibro

Menurut Ypes, W. K. H., di tulisannya "Nota omtrent Singkel en de Pak-pak landen" pada buku "Tijdschrift voor Indische taal-, land- en volkenkunde" ("Catatan mengenai Tanah Singkel dan Pak-pak" pada buku "Jurnal Linguistik, Geografi dan Etnologi Hindia") terbitan tahun 1907 halaman 555-642, marga Pinarik (Penarik) adalah sama dengan marga Cibero (Cibro).

Tulisan ini membahas mengenai daerah-daerah di Singkil dan Pakpak pada saat itu. Singkil dianeksasi oleh Belanda dan dijadikan enderafdeeling pada tahun 1840. Sebelumnya di Singkil ada kerajaan-kerajaan kecil yang disebut “Raja Sinambelas” (Raja 16) dan berada dibawah kekuasaan Aceh. Sebelum itu daerah kerajaan-kerajaan tersebut tunduk pada Kerajaan Pagaruyung, yang kemudian diberikan kepada Aceh sebagai mas kawin. Salah satu kerajaan-kerajaan kecil tersebut adalah kerajaan Surau. Di bagian mengenai Kerajaan Surau pada halaman 35-37 buku ini dikisahkan bagaimana mulainya Kerajaan Surau dan juga mulainya marga Pinarik. Pada saat buku ini ditulis, Kerajaan Surau berada di bawah pimpinan Raja Gombok dari marga Pinarik dengan gelar Raja Setia Bakti, yang karena masih di bawah umur berada di bawah perwalian wakil Selatong, dengan nama Raja Sedap. Saat ini wilayah kerajaan Surau sepertinya adalah Kecamatan Suro Makmur, Kabupaten Aceh Singkil. Para pengapit (mentri) dari Raja Gombok kebanyakan bermarga Cibero dan Pinarik (halaman 36).

Berikut kisahnya di halaman 35-37, diterjemahkan dari bahasa Belanda ke bahasa Indonesia dengan bantuan Google Translate dan DeepL: 



Surau didirikan oleh dua orang bersaudara dari Traju (Pak-pak) yang tergabung dalam marga Cibero, Haji Matondang dan Haji Mulia. Kedua orang tersebut menetap di hulu Laé Kinabé. merupakan cabang Sungai Sulampi yang termasuk dalam kawasan Marga Buluara. Pada saat itu, marga ini sangat terganggu oleh babi pemakan manusia, yang, seperti manusia, mengenakan bergot (rantai) di lehernya (babi merantei). Suatu hari, masyarakat marga Buluara mengetahui keberadaan kedua bersaudara tersebut melalui potongan bambu yang hanyut dari Sungai Kinabé. Kepala marga Buluara kemudian mengutus orang untuk mencari mereka. Haji Matondang dan Haji Mulia kemudian dibawa ke kepala marga Buluara, kemudian ia menjanjikan putri tunggalnya Boru Saléndang kepada salah satu dari mereka yang berhasil membunuh babi merantei. Haji Matondang dan Hadji Moelia kemudian membunuh hewan tersebut dan menyelamatkan rantai bersama-sama. Ketika ditanya oleh kepala Marga Buluara siapa di antara mereka yang akan menikahi putrinya, mereka sepakat bahwa Haji Matondang yang akan menikahinya dan kalung itu akan menjadi milik Haji Mulia.

Namun ternyata kedua bersaudara tersebut tidak bisa saling menceraikan, sehingga mereka tetap hidup bersama bahkan setelah Haji Matondang menikah dengan Boru Saléndang. Namun, kepala marga Buluara merasa kurang pantas jika putrinya tinggal serumah dengan dua laki-laki, dan karena ia tidak berani mengungkapkan pendapatnya secara terbuka, ia menyusun tipu muslihat untuk memisahkan kedua bersaudara tersebut. Selama ini ia terbiasa memanggil keduanya untuk makan malam bersama setiap hari, namun kini ia memanggil mereka secara bergantian ke meja dengan berkata: “Menangke kelaku Cibero susul kelaku Pinarik (Naiklah ke atas menantuku Cibero, tetaplah di luar menantuku Pinarik). Yang dimaksud dengan Cibero, kakak tertua Haji, adalah Matondang yang dianggap mewakili marga Cibero, dan ia memberi nama Pinarik kepada sang adik karena ia baru saja menggali saluran air (parik). Marga Pinarik berasal dari permainan kata ini. Terdiri dari Haji Mulia dan keturunannya. Jika Cibero (Haji Matondang) sudah makan, kepala marga Buluara berteriak: “Menangke kelaku Pinarik susul kelaku Cibero." Kedua bersaudara itu tidak merasa senang dengan pengaturan ini, oleh karena itu Haji Matondang ingin tinggal di luar rumah mertuanya, oleh karena itu ia membujuk istrinya Boru Saléndang untuk meminta kepada ayahnya sebidang tanah sebagai hadiah pernikahan (pakuning kuningan). Kepala marga Buluara memiliki wilayah yang begitu luas sehingga ia segera menuruti permintaan putrinya, dan sebagai pakuning kuningan memberinya sebidang tanah di tepi kanan Sungai Sulampi antara Sungai Laé kinabé dan Laé kinawah. Di atas sebuah bukit, yang disebut Papangéran, dekat sebuah batu besar di sungai Sulampi, tempat Boru Saléndang biasa mencuci dengan pangir, Haji Matondang membangun sebuah rumah. Haji Mulia datang untuk tinggal bersamanya, tetapi tidak dapat melupakan penghinaan yang dilakukan kepadanya oleh kepala marga Buluara, sehingga ia akhirnya mengumumkan kepada Haji Matondang niatnya untuk membunuh kepala marga Buluara.

 

Jadi menurut Ypes, marga Pinarik adalah keturunan Haji Mulia Cibero di Singkil yang dipanggil Pinarik karena baru saja menggali saluran air.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Mengenai situs "Marga Siboro"

Siboro versus Lumban Raja (2)

Huta Haranggaol: Tempat asal marga Siboro