Pustaha Pane na Bolon berasal dari tempat marga Siboro
Voorhoeve mengatakan bahwa pustaha yang ditulis paling lambat tahun 1750 ini berasal dari daerah perbatasan Karo-Simalungun yang ditempati oleh marga Siboro dan Girsang.
PANE NA BOLON, SEBUAH RAMALAN PERANG DARI TOBA-BATAK DI SUMATERA
Sangatlah penting bagi sejarah literatur Batak bahwa kitab sihir (pustaha) pada umumnya diawali dengan daftar panjang nama para guru leluhur (ompu), yang bisa dianggap sebagai silsilah nenek moyang spiritual dari profesi ini. Pewarisan ilmu rahasia mereka dari generasi ke generasi merupakan wujud penghormatan (pietät), sekaligus bukti kesadaran tanggung jawab mereka terhadap para muridnya (anak sisean). Ketelitian ini bahkan menguntungkan penelitian etnologi. Kompilasi teks dari ratusan pustaha Batak yang tersimpan di koleksi-koleksi etnografi Eropa memungkinkan analisis sistematis terhadapnya.
Sebuah pustaha yang berasal dari Akademi Ilmu Pengetahuan Kerajaan di Amsterdam dan kini disimpan di Perpustakaan Universitas Leiden, yang berisi ramalan perang Pane na bolon, dewa astrologi yang mengatur kuartal waktu, memberikan kesempatan bagi konservator bidang Oriental di sana untuk membandingkan teks pustaha ini dengan sebuah kitab sihir yang ditulis paling lambat tahun 1750 dan sudah dimiliki oleh orang Belanda sejak tahun 1781. Berkat keahliannya, Dr. P. Voorhoeve dapat memastikan bahwa kedua teks tersebut memiliki kesamaan isi yang sangat luas, khususnya dalam rantai pewarisan ilmu dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Rantai pewarisan dalam naskah ini mencantumkan nama-nama guru sebagai berikut:
- Namora Siboro
- Datu Pagar ni Adji
- Guru Sangijang ni Adji
- Guru Sanggu ni Adji
- Adik laki-lakinya, Guru Mombang Sailan ni Adji
- Anak angkatnya, Guru Morsaong ni Adji
- Saudara iparnya, Guru Panaehan ni Adji dari negeri Samara Sampilulut
- Putra dari adik laki-lakinya, Datu Pangarambu ni Adji Namora Manurung
Dalam bagian kitab sihir yang membahas Pane na bolon, rantai pewarisan lain disebutkan sebagai berikut:
- Guru ni Arimo
- Guru Mulia Debata ni Adji
- Guru Mombang Sailan ni Adji
- Guru Morsaong ni Adji
- Guru Panaehan ni Adji
- Datu Pangarambu ni Adji
Dalam pustaha milik Akademi, daftar ini disebutkan di awal kitab sebagai berikut:
- Gurunsiboro Huta Suwa
- Datu Pagar ni Adji
- Gurunta Sangijang Porhas ni Adji, seorang guru pengembara
- Saudara iparnya, Nasoiloan ni Adji, seorang anggota marga Sipoholon
- Saudara iparnya, Hinombingan ni Adji
- Putranya, Guru Pangijang ni Adji
Di awal bagian mengenai Pane na bolon, rantai pewarisan disebutkan sebagai berikut:
- Datu Arimo ni Adji
- Datu Sabungan ni Adji
- Datu Girsang Mulia Debata ni Adji
- Saudara iparnya, Guru Sangijang ni Adji, dan seterusnya seperti yang sudah disebutkan sebelumnya.
Dari data ini, Dr. Voorhoeve menyimpulkan bahwa alur pewarisan ilmu ini dapat direkonstruksi sebagai berikut: Kedua bagian teks ini berasal dari wilayah utara Tanah Batak, di daerah tempat bertemunya Simalungun dan Karo, tempat tinggal dua marga, yaitu Siboro dan Girsang (dua bagian marga yang termasuk dalam kelompok Purba-Tarigan). Kedua bagian teks ini dipelajari oleh Guru Sangijang (Porhas) ni Adji dari beberapa guru yang berbeda. Ia adalah seorang datu pengembara yang menyebarkan ajarannya, baik ke Sipoholon (pustaha milik Akademi) maupun ke sebuah wilayah yang disebut dengan berbagai nama seperti Samara Sampilulut, Namora Sampilulut, atau hanya Sampilulut (seperti dalam naskah kami). Nama marga Manurung tampaknya menunjukkan bahwa asal-usul pustaha ini berasal dari Uluan atau Asahan Hulu. Hal ini tidak bertentangan dengan isi maupun bahasa yang digunakan dalam naskah. Bukti paling meyakinkan tentang keterkaitan sejarah antara kedua teks ini adalah kesamaan isi yang sangat besar. Beberapa bagian hampir identik secara kata per kata, sementara bagian lainnya memiliki tingkat kelengkapan yang berbeda tetapi tetap menunjukkan kesamaan yang mencolok dalam detail dan urutannya.
PANE NA BOLON, EIN KRIEGSORAKEL DER TOBA-BATAK AUF SUMATRA
Es ist bedeutungsvoll für die bataksche Literaturgeschichte, dass die Zauberbücher (pustaha) in der Regel mit der Aufzählung der langen Kette der Namen der Lehrmeister der Vorzeit (ompu) beginnen, sozusagen mit dem Stammbaum der geistigen Ahnen der Zunft. Die Überlieferung ihrer Geheimwissenschaft von Geschlecht zu Geschlecht war einerseits der Ausdruck der Pietät, andererseits der Erweis des Verantwortungsbewusstseins gegenüber ihren Schülern (anak sisean). Diese Gewissenhaftigkeit kommt sogar noch den Forschungen der Ethnologie zugute. Die Kompilation der Texte von einigen Hundert in europäischen völkerkundlichen Sammlungen geborgenen batakschen Zauberbüchern ermöglicht ihre systematische Bearbeitung.
Ein aus dem Besitz der Königlichen Akademie der Wissenschaften in Amsterdam stammendes, in der Universitätsbibliothek in Leiden verwahrtes pustaha mit dem Kriegsorakel des Pane na bolon, der astrologischen Gottheit, die das Quartal regiert, bot dem dortigen Konservator der Orientalia die Möglichkeit, den Text unseres aus Privatbesitz stammenden pustaha durch Vergleichung mit einem spätestens 1750 geschriebenen Zauberbuch, das schon 1781 in holländischem Besitz war, zu überprüfen. Dank seiner Fachkenntnis konnte Dr. P. Voorhoeve die weitgehende sachliche Übereinstimmung der beiden Texte, namentlich auch der von Generation zu Generation weitergereichten Überlieferungskette feststellen.
Die ununterbrochene Kette der Überlieferung beruht in unserem Exemplar auf den Namen der nachfolgend aufgezählten Lehrmeister:
- Namora Siboro
- Datu Pagar ni Adji
- Guru Sangijang ni Adji
- Guru Sanggu ni Adji
- Dessen jüngerer Bruder Guru Mombang Sailan ni Adji
- Dessen Pflegesohn Guru Morsaong ni Adji
- Dessen Schwager Guru Panaehan ni Adji im Lande Samara Sampilulut
- Der Sohn seines jüngeren Bruders, Datu Pangarambu ni Adji Namora Manurung
In dem Teil des Zauberbuches, der das Thema Pane na bolon behandelt, kommt noch folgende Kette vor:
- Guru ni Arimo
- Guru Mulia Debata ni Adji
- Guru Mombang Sailan ni Adji
- Guru Morsaong ni Adji
- Guru Panaehan ni Adji
- Datu Pangarambu ni Adji
Im pustaha der Akademie lautet diese Kette am Anfang des Buches:
- Gurunsiboro Huta Suwa
- Datu Pagar ni Adji
- Gurunta Sangijang Porhas ni Adji, ein Wanderlehrer
- Dessen Schwager Nasoiloan ni Adji, ein Angehöriger des Stammes Sipoholon
- Dessen Schwager Hinombingan ni Adji
- Dessen Sohn Guru Pangijang ni Adji
Am Anfang des Abschnittes über Pane na bolon steht die Kette:
- Datu Arimo ni Adji
- Datu Sabungan ni Adji
- Datu Girsang Mulia Debata ni Adji
- Dessen Schwager Guru Sangijang ni Adji
und so weiter wie oben.
Aus diesen Angaben lässt sich nach den Feststellungen von Dr. Voorhoeve folgender Lauf der Überlieferungen rekonstruieren: Die beiden Teile des Textes stammen aus dem Norden des Bataklandes, aus der Gegend, wo Simalungun und Karo sich begegnen und die beiden marga Siboro und Girsang (zwei zu Purba-Tarigan gehörige Stammteile) wohnen. Die beiden Textteile wurden von Guru Sangijang (Porhas) ni Adji von verschiedenen Lehrmeistern erlernt. Er war ein Wanderdatu und verbreitete die Lehren weiter, einerseits nach Sipoholon (pustaha der Akademie), andererseits nach einer Landschaft, die abwechselnd Samara Sampilulut, Namora Sampilulut oder nur Sampilulut genannt wird (unser Exemplar). Der Stammesname Manurung weist wohl nach Uluan oder Ober-Asahan als Herkunftsort dieses pustaha. Schrift und Sprache stehen dazu nicht im Widerspruch. Der überzeugendste Beweis ihres geschichtlichen Zusammenhanges liegt in der weitgehenden Übereinstimmung der beiden Texte. Einige Stücke sind fast wörtlich gleich; andere sind in verschiedenem Grade von Ausführlichkeit behandelt, zeigen aber doch auffällige Gleichheit in Einzelheiten und in ihrer Reihenfolge.
Komentar
Posting Komentar