Datu Parultop dan Datu Parulas (6)

 Oleh Drs. Djabintang Hasiholan Siboro

(Lihat bagian 123, 4 dan 5 sebelum membaca bagian 6 ini)

Setelah Datu Parulas Parultop (DPP) masuk ke rumah atas ajakan  penduduk tuan rumah, terjadilah saling bertutur sapa dan memperkenalkan diri masing2. Tuan rumah  (penduduk) adalah marga Sagala (utk selanjutnya kita sebut si Sagala) dan DPP juga memperkenalkan dirinya marga Purba Sigulang Batu. Menjawab pertanyaan DPP mengapa rumah rumah penduduk tertutup pintunya semua? Si Sagala menjelaskan: Bahwa telah berhari hari dan berminggu minggu penduduk negeri Sagala mengalami kesusahan dan merasa ketakutan karena ulah 2 jenis binatang (makhluk aneh) yg belum pernah dikenal selama ini, yaitu: "Aili Siparrante" (babi hutan berkalung rantai) dan "Lali Sipitu Tahal" (elang bekepala 7). Ketika tiba malam hari babi hutan merusak tanaman penduduk, sdh sangat banyak yg dirusaknya. Jika ada penduduk yg mencoba menghalau, babi hutan justru akan menyerang dan melukai penduduk. Konon.. babi hutan berkalung rantai ini tidak mempan ditembus oleh anak panah atau peluru biasa. Dengan adanya situasi ini sungguh berakibat pada tdk adanya ketenangan dirasakan oleh penduduk. Rasa takut mencekam terus menerus sehingga penduduk negeri Sagala tdk berani jeluar rumah. Giliran di siang hari, muncul elang berkepala 7 yang beraksi, terbang melayang layang mencari mangsa/korban. Apabila dilihat ada orang (anak anak) atau hewan pasti akan disambarnya. Ini sungguh sungguh menjadi sebuah malapetaka bagi penduduk negeri Sagala.

Setelah DPP mendengar penjelasan dari si Sagala, berkatakah DPP (dialog di indonesiakan).

DPP         : "Saya bisa membantu penduduk kampung Sagala ini membunuh kedua makhluk binatang itu, tetapi utk itu perlu dibicarakan terlebih dahulu dengan orang tua tua di kampung ini."

si SAGALA    :  "Baiklah kalau Amangboru mau, saya akan membawa Amangboru kpd raja huta pemimpin kami. Dialah yg berhak memutuskan segala sesuatu."

DPP      :  " Baiklah mari kita pergi."

Bertemulah DPP dengan Raja Huta, diperkenalkan oleh si Sagala dan menjelaskan, bahwa DPP dapat membantu penduduk kampung untuk membunuh babi hutan berkalung rantai dan elang berkepala 7. Lalu DPP diterima oleh Raja Huta dgn ramah dan saling memperkenalkan diri. Dari perkenalan itu tahulah DPP, bahwa Raja Huta ini adalah "Tuan Mula Ni Huta II" dari kelompok marga Sagala Hutabagas, dan ternyata Tuan Mula Ni Huta II adalah raja pewaris hak kesulungan ditengah tengah marga Sagala. Mengapa Sagala Hutabagas menjadi pewaris hak kesulungan ditengah tengah marga Sagala? Ada penjelasannya, tapi kita batasi saja, kita fokus saja kpd turi-turian ni DPP.

Selanjutnya dialog antara Tuan Mula Ni Huta II (disingkat TMNH II) dengan DPP sebagai berikut:

TMNH II   :  "Kalau babi hutan berkalung rantai dan elang berkepala 7 bisa dibunuh, saya mempunyai 7 orang putri, silahkan memilih salah seorang utk dijadikan istrimu, saya merestui."

DPP     :  "Ya Tulang, kalau putrinya Tulang menjadi istri saya, bagaimana saya bisa memberi makan? Sebab saya tdk memiliki apa apa."

TMNH II    :  "Tanah negeri Sagala ini luas, sebagian akan kuserahkan padamu."

DPP      :  " Baiklah Tulang, ijinkanlah saya mempersiapkan segala sesuatu sebelum membunuh babi hutan dan burung elang itu. Namun saya berpesan: kalau terjadi sesuatu menimpa diri saya, misalnya mati karena kedua binatang itu, jangan dikuburkan, tapi baringkanlah tubuh saya di sebuah sopo (sopo biasanya biasanya sekaligus berfungsi sebagai lumbung padi)."

Untuk misi atau tugas ini DPP betul betul mempersiakan diri dgn sebaik baiknya, karena ini adalah pertaruhan antara kehormatan dan rasa malu, bahkan kematian. Untuk itu menurut cerita, DPP sempat melakukan semedi (tapa) di Pulau Tulas. Setelah persiapan dirasa sudah cukup, DPP dengan dibantu oleh penduduk menggali sebuah lobang (godung) di suatu tempat di kampung itu, dinamai "Ginolat (Gorat?)". Lobang galian (godung) ini akan dijadikan sebagai tempat mengintai sekaligus sebagai benteng manakala burung elang datang menyambar. DPP memutuskan, yang pertama akan dilakukan adalah membunuh babi hutan berkalung rantai, setelah itu membunuh burung elang berkepala 7

Pada suatu siang hari DPP menyelidiki dan mengintip, dimana biasanya kubangan rombongan babi hutan ketika margulu (mandi/membasahi tubuhnya. Kubabangannya ketemu dan dapat dilihat oleh DPP. Diantara kumpulan babi hutan itu ada seekor babi hutan berukuran sangat besar, di lehernya ada kalung rantai. Ketika babi hutan itu mau margulu/mandi di kubangan), kalungnya disangkotkan di cabang pohon kecil (dakka ni hau). Dengan keahlian dan ilmu yg dimilikinya, DPP dengan sigap dan cepat dapat nengambil kalung rantai itu dan segera pergi meninggalkan lokasi. Dengan tdk lagi memiliki rantai, hilanglah kekuatan babi hutan.

Pada suatu malam, mengintailah DPP di suatu tempat (kebun tanaman) menunggu datangnya babi hutan. Benar babi hutan datang, tidak berlama lama DPP langsung membidik babi hutan dengan ultopnya dan kena. Babi hutan terluka, anak panah menembus tubuhnya, tetapi mengamuklah babi hutan itu hendak menerkam DPP. Tidak dapat dielakkan, terjadilah pertarungan hebat saling melukai. Namun berhubung kekuatan babi hutan sudah berkurang karena tdk lagi memiliki kalung rantai, akhirnya DPP berhasil melumpuhkan dan merobohkan babi hutan itu. Menyaksikan peristiwa itu, penduduk kampung merasa bersyukur dengan matinya babi hutan.

Pada hari hari berikutnya di siang hari DPP masuk ke dalam lobang galian (godung) di Ginolat (Gorat). Disitu DPP mengintai dan menunggu datangnya burung elang berkepala 7. Setelah beberapa saat nenungg, burung elang itu muncul terbang melayang layang dan ternyata sangat besar. Kepakan sayapnya menimbulkan angin kencang seoerti badai. Ultop dibidikkan, anak sumpit/peluru di embusnya, langsung melesat dan kena di salah satu kepala burung elang itu, tetapi tdk jatuh dan masih bisa terbang. Setelah beberapa kali terkena anak sumpit/ultop, mengamuklah burung elang itu menerkam DPP, tetapi lama lama burung elang itu kehabisan napas, akhirnya jatuh roboh. Namun tdk diduga dan ini betul betul sial, burung elang yg sangat besar itu justru jatuh menimpa tubuh DPP yang berada di dalam lobang galian (godung). DPP penuh bercak darah, sulit bergerak dan tidak bisa bernafas di dalam Godung itu, beberapa saat kemudian, DPP akhirnya mati.

Situasi sungguh sungguh mencekam, penduduk gemetar tidak ada yg berani mendekati tubuh DPP. Setelah beberapa saat berlalu, penduduk mulai memberanikan diri dgn rasa was was mendekati lokasi. Betul, mereka melihat DPP tertimpa bangkai burung elang yg ternyata sangat besar, dan mereka juga melihat DPP sudah mati. Penduduk yg ada di lokasi itu terdiam, suasana membisu membuat hening, tdk ada yg berbicara. Kemudian mereka baru ingat pesan DPP: " Kalau dia mati jangan dikuburkan." Penduduk kampung akhirnya menyisihkan bangkai burung elang itu, lalu mengangkat tubuh DPP dan membaringkannya di sebuah Sopo.

(Bersambung ke bagian 7)

(Gambar adalah sekedar ilustrasi, diambil dari https://info637247.wixsite.com/tribalartgilliams/batak)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Datu Parultop dan Datu Parulas (1)

Mengenai Marga Siboro

Huta Haranggaol: Tempat asal marga Siboro