Datu Parultop dan Datu Parulas (8)

   Oleh Drs. Djabintang Hasiholan Siboro

(Lihat bagian 123456 dan 7 sebelum membaca bagian 7 ini)

DPP Menikah

Hari hari seusai mengadakan acara ucapan syukur kpd Mulajadi Nabolon dgn makan bersama di halaman rumah Tuan Mula Ni Huta II Sagala Hutabagas, suasana huta Sagala kini menjadi berbeda. Hari hari menjadi riang gembira ketika penduduk kampung pergi ke sawah bekerja mencari nafkah. Ibu ibu tdk lagi merasa takut melepaskan anaknya keluar dari rumah. Angin berhembus sepoi sepoi ditimpa sinar mentari dipagi hari, sungguh suasana sangat menyenangkan.

Tibalah saatnya TMNH II merasa perlu bertemu dan berbicara dgn DPP. Hal ini sehubungan dgn janjinya kpd DPP, lalu beliau  dengan didampingi oleh 7 putrinya mulai berbicara:

TMNH II     :  " Sesuai dengan perjanjian kita, disini ada 7 putri saya, pilihlah siapa yg akan menjadi istrimu."

DPP      :  Sebelum menjawab, DPP mengamati dan memperhatikan putri raja satu persatu, mulai dari yg sulung sampai putri ke 6. Mereka semuanya cantik, tetapi putri bungsu agak kurang cantiknya dibanding ke 6 kakaknya. Terbesit dalam hati DPP untuk memilih putri ke 3 karena dia paling menawan di hatinya. Namun tiba tiba datanglah semacam bisikan kpd DPP, agar jangan memilih satupun putri raja mulai dari putri sulung sampai putri ke 6. Dengan memperhatikan bisikan tersebut, maka keluarlah jawaban dari DPP: " Baiklah Tulang, sebelum saya menentukan pilihan, saya ingin ke 7 putri Tulang menyeberangi sungai (binanga) Sagala ini (kadang disebut binanga Tula). Nanti saya akan tahu siapa yg menjadi jodohku."

Secara beriringan berjalanlah ke 7 putri  menyeberangi sungai, berturut turut mulai dari putri sulung sampai dengan putri bungsu. Apa yang terjadi...? Ternyata putri sulung sampai dgn putri ke 6, semuanya mengankat kain yg dikenakannya hingga atas lutut menghindari basah. Namun si putri bungsu membiarkan saja kain yg dikenakannya basah ketika menyeberangi sungai itu. Melihat itu DPP sdh merasa mantap, putri bungsu inilah yg akan dijadikan sebagai istrinya. Dalam pandangan DPP, putri bungsu ini meskipun kurang cantiknya dalam rupa, tapi beradat penuh kesopanan ( botul botul boru ni raja). DPP berjalan mendekat, menemui putri bungsu raja dan berkata: " Ho nama boru ni raja nami na gabe parsonduk bolon di ahu, jala ahu sinondukmu" (engkaulah yg akan menjadi istriku dan aku menjadi suamimu). Mendengar perkataan itu, putri raja menunduk tersipu malu, dan tahukah DPP bahwa putri raja ini bernama " NAI ASANG PAGAR br Sagala Hutabagas."

Tentang mengapa ada bisikan kepada DPP untuk tidak memilih putri raja yg lainnya meskipun cantik cantik? Kita tdk mengetahui apa alasannya, sebab DPP tdk pernah bercerita mengenai hal ini. Kalau ada yg mencoba menjelaskannya, itu hanya berupa dugaan dugaan. Boleh saja ada interpretasi2 tapi tdk bisa dibuktikan. Alasan paling logis adalah: DPP memilih Nai Asang Pagar tiada lain karena dia beradat penuh kesopanan.

Beberapa hari kemudian, resmilah DPP menikah dgn Nai Asang Pagar, dipasu pasu raja sesuai kebiasaan adat yg berlaku. Dengan demikian, maka sekarang TMNH II sdh menjadi mertua (simatua) dari DPP, dengan memanggilnya "Amang Simatua." Atau utk sehari hari menyebut "Amang."

Pada waktu dan saat yg tepat, bersama istri menghadaplah DPP kepada mertuanya TMNH II dan berbicara:

DPP      :  " Amang...sesuai janji Amang waktu itu, Amang akan memberikan tanah kepada saya. Tanah itu perlu bagi saya dan juga bagi putri Amang, istri saya. Mohon supaya kami diberikan tanah diolah sebagai sumber penghidupan kami."

TMNH II      : " Tunjuklah, dari batas mana sampai kemana yg kalian minta."

DPP      : " Begini Amang...dimana nanti tertancap anak panah ultop ini, mulai dari situlah tanah yg kami butuhkan sampai ke pantai Tulas."

TMNH II menyetujuinya, lalu DPP mengarahkan sasaran ultopnya kesuatu  titik kearah barat, diembusnya anak ultopnya dan tertancaplah di satu titik. Setelah diperiksa, ternyata anak panah tertancap di titik yg sangat jauh. TMNH II sangat kaget dan sama sekali tdk menduga sampai sejauh itu, betapa luasnya tanah yg akan kuberikan kepada menantuku ini, pikirnya. Tetapi sdh menjadi adat (hukum), janji harus ditepati dan demi menjaga kehormatan, akhirnya TMNH II menyerahkan tanah yg luas kpd menantunya DPP sebagai " Ulos So Ra Buruk" (di simbolkan tanah itu sebagai kain yg tdk pernah lapuk). Hampir separoh tanah negeri Sagala mulai perbatasan Ginolat (Gorat) sampai ke pantai Tulas, termasuk perairannya menjadi milik DPP. Faktanya, tanah itu sdh menjadi Golat (Tanah Ulayat) marga Siboro di Sagala sampai sekarang.

Matahari terbit dari timur, kemudian secara perlahan merangkak mendaki hingga di puncak siang hari, lalu secara perlahan pula, turun menuju ufuk barat dan tenggelam dibalik cakrawala. Demikianlah di negeri Sagala, hari hari datang dan pergi silih berganti  Dalam tahun tahun yg berbahagia, rupanya Tuhan menunjukkan cinta dan belas kasihnya Kpd OP DPP dan Op.Nai Asang Pagar. Tuhan mengaruniakan 3 orang putra kepada mereka, yaitu: 1. Bangundongoron, 2. Saharga (Op. Ni Arga), 3. Pangaribuan.

(Bersambung ke bagian 9)

(Gambar adalah sekedar ilustrasi, diambil dari https://info637247.wixsite.com/tribalartgilliams/batak)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Datu Parultop dan Datu Parulas (1)

Mengenai Marga Siboro

Huta Haranggaol: Tempat asal marga Siboro