Postingan

Mengenai situs "Marga Siboro"

Situs "Marga Siboro" ini membahas seputar asal-usul marga Siboro. Siboro (Surat Batak: ᯘᯪᯅᯬᯒᯬ) adalah salah satu marga Batak, Sumatera Utara. Marga ini terdapat dalam masyarakat Toba dengan namamarga "Siboro", masyarakat Pakpak dengan nama marga "Cibro"/"Cibero", masyarakat Karo dengan nama marga "Tarigan Sibero", masyarakat Simalungun dengan nama marga "Purba Siboro". Marga ini juga terdapat di masyarakat Gayo, Alas, Singkil dengan nama marga "Cibro". Dari silsilah (tarombo) marga Siboro yang ada saat ini, diperkirakan marga Siboro dimulai pada paling tidak abad ke-16 dari keturunan Datu Parulas Parultop marga Purba Sigulangbatu , yang adalah generasi ke 12 terhitung dari Si Raja Batak: 1) Si Raja Batak, 2) Raja Isumbaon, 3) Sorimangaraja, 4) Tuan Sorba Dibanua, 5) Toga Sumba (Sumba II), 6) Toga Simamora, 7) Toga Purba, 8) Purba Sigulang Batu, 9) Partali Ganjang (Parlangka Jolo), 10) Guru Sotongguon, 11) Somalat...

Marga Pinarik saudara dari marga Cibro

Gambar
Menurut Ypes, W. K. H., di tulisannya "Nota omtrent Singkel en de Pak-pak landen" pada buku "Tijdschrift voor Indische taal-, land- en volkenkunde" ("Catatan mengenai Tanah Singkel dan Pak-pak" pada buku "Jurnal Linguistik, Geografi dan Etnologi Hindia") terbitan tahun 1907 halaman 555-642, marga Pinarik (Penarik) adalah sama dengan marga Cibero (Cibro). Tulisan ini membahas mengenai daerah-daerah di Singkil dan Pakpak pada saat itu. Singkil dianeksasi oleh Belanda dan dijadikan enderafdeeling pada tahun 1840. Sebelumnya di Singkil ada kerajaan-kerajaan kecil yang disebut “ Raja Sinambelas ” (Raja 16) dan berada dibawah kekuasaan Aceh. Sebelum itu daerah kerajaan-kerajaan tersebut tunduk pada Kerajaan Pagaruyung, yang kemudian diberikan kepada Aceh sebagai mas kawin. Salah satu kerajaan-kerajaan kecil tersebut adalah kerajaan Surau. Di bagian mengenai Kerajaan Surau pada halaman 35-37 buku ini dikisahkan bagaimana mulainya Kerajaan Surau dan...

Ada indikasi bahwa Siboro jauh lebih tua dari tahun 1600an

Gambar
Jika dihitung dari tarombo Siboro yang ada pada umumnya saat ini, Datu Parulas Parultop, leluhur marga Siboro, hidup pada tahun 1600an. Namun beberapa informasi berikut ini menjadi indikasi bahwa ada kemungkinan Siboro sudah ada jauh lebih awal dari tahun 1600-an. Bagaimanapun diperlukan riset lebih lanjut. 1) Istri Silau Raja adalah boru Siboro Silau Raja disebut menikahi boru Siboro ( http://clemensmalau.blogspot.com/2009/11/malau-raja-atau-silau-raja.html ). Silau Raja adalah generasi ke 2 setelah Si Raja Batak, sehingga jika diasumsikan 1 generasi lamanya 25 tahun dan jika diasumsikan Si Raja Batak hidup di tahun 1200-an, maka Silau Raja hidup di sekitar tahun 1200-an . 2) ⁠Istri dari Sondi Raja adalah boru Siboro Sondi Raja, anak dari Silahisabungan, disebut menikahi boru siboro ( https://id.wikipedia.org/wiki/Sondi_Raja ). Sondi Raja adalah generasi ke 5 setelah Si Raja Batak, sehingga jika diasumsikan 1 generasi lamanya 25 tahun dan jika diasumsikan Si Raja Batak hidup di tahu...

Pustaha Pane na Bolon berasal dari tempat marga Siboro

Gambar
Berikut terjemahan ke bahasa Indonesia dari cuplikan dari " PANE NA BOLON, EIN KRIEGSORAKEL DER TOBA - BATAK AUF SUMATRA " tulisan JOH. WINKLER and P. VOORHOEVE, halaman 25-26 dari dari "Bijdragen tot de Taal-, Land- en Volkenkunde", 1956, Deel 112, 1ste Afl. (1956), diikuti dengan teks aslinya dalam bahasa Jerman.  Voorhoeve mengatakan bahwa pustaha yang ditulis paling lambat tahun 1750 ini berasal dari daerah perbatasan Karo-Simalungun yang ditempati oleh marga Siboro dan Girsang.   PANE NA BOLON, SEBUAH RAMALAN PERANG DARI TOBA-BATAK DI SUMATERA Sangatlah penting bagi sejarah literatur Batak bahwa kitab sihir ( pustaha ) pada umumnya diawali dengan daftar panjang nama para guru leluhur ( ompu ), yang bisa dianggap sebagai silsilah nenek moyang spiritual dari profesi ini. Pewarisan ilmu rahasia mereka dari generasi ke generasi merupakan wujud penghormatan ( pietät ), sekaligus bukti kesadaran tanggung jawab mereka terhadap para muridnya ( anak sisean ). Ketelitia...

Catatan tertua tahun 1223 tentang seorang bermarga Siboro

Gambar
Dalam buku berjudul dalam bahasa Jerman " Osnabruckische Geschichte. " (Sejarah Osnabrück) tulisan Justus Möser yang diterbitkan di Berlin tahun 1824, dikutip catatan tahun 1223 dalam bahasa Latin tentang seseorang bernama Florentius Siboro. Catatan tahun 1223 ini juga dikutip di buku berjudul " ANTISTITUM OSNABRUGENSIS ECCLESIAE " (Tentang para uskup gereja Osnabrück) tulisan JOANNE ITELIO SANDHOFF OSNABRUGENSI (Joanne Itelio Sandhoff dari Osnabrück) dan diterbitkan tahun 1785, di halaman 68 bagian "DIPLOMATA SEU DOCUMΕΝΤΑ AD RES GESTAS ANTISTITUM OSNABRUGENSIUM" (Diploma atau Dokumen Mengenai Tindakan Para Uskup Osnabrück).  Walaupun kemungkinan besar Florentius Siboro ini tidak ada hubungan dengan marga Siboro dari suku Batak, namun setahu kami inilah catatan tertua tentang seorang bermarga Siboro. Teks terjemahan ke bahasa Indonesia menggunakan Google Translate: Karya lengkap Justus Möser Jilid ketujuh. Berisi: 1 Sejarah Os...

Relief batu dulu di kampung Siboro

Gambar
Menurut buku "Steenplastiek in Simaloengoen" tulisan Tichelman, Gerard Louwrens dan Voorhoeve, Petrus, yang diterbitkan tahun 1938, di kampung (huta) Siboro di Simalungun, ada relief batu yang dulunya disembah masyarakat: 138. Pangulubalang di Huta Siboro. - Ukuran: Tinggi 59 cm; keliling 80 cm. - Deskripsi: Kepala besar, hidung rusak, tangan dalam posisi sembah di depan dada. - Pemuliaan: Pada masa ayah dari Tuan Siboro yang sekarang, pangulubalang ini masih dihormati secara teratur, tetapi saat ini tidak lagi. Dahulu, orang memberikan persembahan ketika ada penyakit, hama pada tanaman padi, dan di masa lalu saat terjadi perang. Persembahan yang diberikan meliputi seekor anjing (asu sunggam balanga), ayam jantan dan betina berwarna cokelat, ikan, dan lain-lain. Pangulu meminta setiap warga memberikan kontribusi sebesar 5 sen untuk persembahan ini. - Asal-usul: Pangulubalang ini dibuat pada masa pemerintahan kakek (atau leluhur?) dari Tuan Siboro yang sekarang. Sebagai catat...

Dimana saja ada jejak Datu Parulas Parultop?

Gambar
(Tulisan ini menggunakan tulisan Kardi Siboro dan tulisan Djabintang Hasiholan Siboro sebagai bahan, dengan penyesuaian oleh Arnold Siboro) Datu Parulas Parultop adalah seorang pengembara yang misterius, sampai saat ini tidak diketahui dengan pasti seluruh kisah hidupnya. Namun di berbagai tempat oleh masing-masing yang mengaku keturunannya kita menemukan kisah Datu Parulas Parultop. Berikut ini adalah lokasi dimana ditemukan kisah Datu Parulas Parultop sebagaimana dituturkan oleh mereka yang mengaku keturunannya. 1. Dolog Silou (marga Purba Tambak) Kisah perjalanan Datu Parulas Parultop pada bagian ini dikonstruksikan dan dikaitkan dengan tulisan dari Tuan Bandar Alam Purba Tambak , generasi terakhir yang memangku jabatan sebagai Raja di kerajaan Dolog Silou, yang selamat dari pembantaian Barisan Harimau Liar di tahun 1946-1947. Ia menulis pada tanggal 18 November 1967 dan dipublikasikan pada tahun yang sama. Cetakan kedua dibuat pada tahun 2008 dan cetakan ketiga tahun 2019. Tulisan ...

Siboro, gelang merah-putih dalam tradisi Asiria

Gambar
Dalam tradisi bangsa Asiria , setiap tanggal 25 Maret adalah hari perayaan "Siboro" (disebut juga Suboro), yaitu kabar baik sukacita perawan Maria. Katanya "Siboro" dalam bahasa Suryani berarti Kabar Sukacita, Pengumuman, atau Kabar Baik. Dalam Tradisi Gereja Suryani, pada malam Siboro, segala macam biji-bijian dikumpulkan dari ladang dan dicampur dalam adonan untuk membuat roti yang diberkati oleh seorang imam. Pada Hari Siboro, benang putih dan merah dililitkan dan dikenakan. Gelang dari benang ini juga disebut Siboro. Benang putih melambangkan sifat ilahi dan kemurnian Tuhan Yesus Kristus. Benang merah melambangkan sifat manusia. Yesus Kristus disalibkan untuk keselamatan umat manusia. Benang merah dan putih dijalin untuk melambangkan sifat ilahi yang bersatu dengan sifat manusia melalui Maria. Benang Siboro yang dililitkan dengan warna putih dan merah dikenakan di pergelangan tangan atau leher hingga Paskah (“Nuhomo” dalam bahasa Suryani), lalu dibakar pada hari...